InfoKeras24.com – Kabar mengenai kehadiran seri Nvidia GeForce RTX 5000 Super kembali mencuat setelah sejumlah laporan menyebut proses produksinya telah di mulai. Beberapa mitra manufaktur bahkan di kabarkan sudah menyiapkan kartu grafis generasi terbaru tersebut. Namun, meski persiapan produksi terus berjalan, peluncuran resminya di sebut harus di tunda karena terkendala biaya komponen yang melonjak drastis.
Sumber industri mengungkapkan bahwa tingginya harga chip memori GDDR7 berkapasitas 3GB menjadi faktor utama yang membuat Nvidia memilih menahan jadwal peluncuran lini RTX 5000 Super. Kondisi ini di nilai berpotensi meningkatkan biaya produksi secara signifikan sehingga berdampak pada harga jual produk di pasaran.
Harga Memori GDDR7 3GB Melonjak Tajam
Laporan terbaru menyebut Nvidia telah meminta para mitra pembuat kartu grafis untuk menunda peluncuran seri RTX 5000 Super hingga kondisi pasar lebih memungkinkan. Keputusan tersebut berkaitan erat dengan harga chip memori GDDR7 3GB yang saat ini masih berada di level sangat tinggi.
Berdasarkan informasi yang beredar, satu chip GDDR7 3GB di banderol sekitar USD 60 hingga USD 70. Sebagai perbandingan, chip GDDR7 2GB hanya di pasarkan di kisaran USD 20. Dengan selisih harga yang mencapai lebih dari tiga kali lipat, peningkatan kapasitas memori sebesar 50 persen di anggap belum sebanding dengan lonjakan biaya yang harus di tanggung produsen.
Akibatnya, biaya produksi atau Bill of Material (BOM) untuk setiap unit kartu grafis ikut meningkat. Situasi tersebut membuat produsen harus mempertimbangkan kembali strategi peluncuran agar produk tetap memiliki harga yang kompetitif di pasar.
Selain itu, tingginya permintaan komponen memori dari industri kecerdasan buatan (AI) turut memperparah kondisi. Banyak perusahaan yang bergerak di bidang AI di ketahui memborong pasokan DRAM dan NAND sehingga stok untuk industri lain menjadi semakin terbatas.
Mitra Nvidia Berpotensi Mengalami Kerugian
Di sisi lain, Nvidia juga telah mengubah kebijakan pengadaan chip memori sejak 2025. Jika sebelumnya perusahaan mengatur distribusi memori kepada para mitra, kini setiap produsen kartu grafis bertanggung jawab memperoleh pasokan memori secara mandiri.
Kebijakan tersebut membuat beban biaya berada di tangan masing-masing produsen. Apabila Nvidia tetap menetapkan harga jual sesuai Manufacturer Suggested Retail Price (MSRP). Sementara harga komponen terus meningkat, keuntungan yang diperoleh mitra di perkirakan akan sangat tipis.
Bahkan, sejumlah analis menilai beberapa produsen kemungkinan memilih tidak memproduksi seri RTX 5000 Super apabila margin keuntungan di nilai tidak mencukupi. Langkah tersebut di anggap lebih aman di banding harus menjual produk dengan risiko kerugian pada setiap unit yang di pasarkan.
Padahal, penggunaan memori GDDR7 3GB sebenarnya menawarkan keuntungan teknis. Nvidia dapat meningkatkan kapasitas VRAM tanpa perlu menambah jumlah modul memori ataupun mengubah konfigurasi bus memori yang di gunakan. Meski demikian, manfaat tersebut belum mampu menutupi tingginya harga komponen saat ini.

Nvidia RTX 50 series
Sejumlah Model RTX 5000 Super Sudah Dipersiapkan
Walaupun jadwal peluncuran masih belum jelas, berbagai bocoran mengindikasikan Nvidia telah menyiapkan beberapa model baru untuk memperkuat lini GeForce RTX 5000. Beberapa varian yang di sebut sedang berada dalam tahap pengembangan antara lain:
- GeForce RTX 5080 Super
- GeForce RTX 5070 Ti Super
- GeForce RTX 5070 Super
- GeForce RTX 5050 9GB dengan memori GDDR7 3GB
Khusus untuk RTX 5050 9GB, jadwal perilisannya juga di kabarkan ikut tertunda karena menggunakan jenis memori yang sama. Dengan demikian, seluruh lini baru tersebut masih menunggu kondisi harga komponen yang lebih stabil sebelum resmi di perkenalkan.
Sementara itu, sejumlah indikasi mengenai keberadaan RTX 5000 Super terus bermunculan. Salah satunya berasal dari daftar kalkulator kebutuhan daya (PSU) milik Seasonic yang telah menampilkan nama RTX 5080 Super setelah sebelumnya memasukkan RTX 5070 Super dan RTX 5070 Ti Super.
Krisis Pasokan Memori Diperkirakan Berlanjut
Selain persoalan harga, industri semikonduktor juga masih di bayangi potensi krisis pasokan dalam beberapa tahun ke depan. Produsen memori SK Hynix sebelumnya memperkirakan permintaan chip memori akan terus melampaui kapasitas produksi global.
Bahkan, kondisi tersebut di prediksi dapat berlangsung hingga melewati tahun 2030. Apabila proyeksi itu benar terjadi, harga memori berpotensi tetap tinggi sehingga dapat memengaruhi jadwal peluncuran berbagai produk teknologi, termasuk kartu grafis generasi terbaru.
Dengan situasi tersebut, Nvidia tampaknya memilih menunggu momentum yang lebih tepat di banding memaksakan peluncuran produk dengan biaya produksi yang terlalu tinggi. Strategi ini di harapkan dapat menjaga daya saing harga sekaligus memberikan keuntungan yang lebih sehat bagi para mitra manufaktur.
Kesimpulan
Peluncuran Nvidia GeForce RTX 5000 Super di laporkan mengalami penundaan akibat mahalnya harga chip memori GDDR7 3GB yang di gunakan pada lini terbaru tersebut. Lonjakan biaya komponen membuat biaya produksi meningkat sehingga berpotensi memengaruhi harga jual di pasaran.
Di tengah tingginya permintaan memori dari industri AI serta proyeksi krisis pasokan yang masih akan berlangsung beberapa tahun ke depan. Nvidia di perkirakan memilih menunggu kondisi pasar membaik sebelum memperkenalkan jajaran RTX 5000 Super secara resmi. Sementara itu, berbagai bocoran mengenai model yang tengah di persiapkan terus bermunculan dan memperkuat indikasi bahwa peluncuran hanya tinggal menunggu waktu yang lebih tepat.