Pemandian Bunut Ngengkang kini tidak lagi menampilkan kondisi yang biasa dinikmati pengunjung. Minimnya pasokan air selama kemarau membuat kawasan wisata alam di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), kehilangan sementara salah satu unsur yang selama ini menopang aktivitas wisatanya.

Dampaknya tidak berhenti pada perubahan kondisi alam. Masyarakat yang mencari penghasilan dari kedatangan wisatawan juga mulai merasakan tekanan ekonomi. Jumlah pengunjung berkurang, omzet pedagang merosot, dan beberapa pelaku usaha memilih mencari pekerjaan lain sambil menantikan perubahan cuaca.

Bunut Ngengkang berada di Desa Buwun Sejati, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Kawasan ini memiliki lingkungan alami di tengah Hutan Sesaot, tepatnya pada wilayah kaki Gunung Argapura.

Pedagang Kehilangan Sebagian Besar Pendapatan

Perubahan kondisi Bunut Ngengkang memberikan dampak besar terhadap usaha masyarakat sekitar. Siti, salah satu pedagang setempat, tetap membuka warung meskipun jumlah pembeli jauh lebih sedikit dibandingkan ketika kawasan pemandian memiliki pasokan air yang cukup.

Perbedaan pendapatannya sangat besar. Dalam kondisi wisata yang normal, Siti mampu mengantongi pemasukan sekitar Rp500.000 sehari. Sekarang, ia hanya mendapatkan sekitar Rp20.000 hingga Rp25.000 dalam satu hari.

Meski menghadapi penurunan tersebut, Siti tetap berdagang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Sementara itu, tidak semua pedagang mengambil keputusan serupa.

Sejumlah pemilik warung memilih menghentikan kegiatan usaha untuk sementara. Mereka menilai minimnya kunjungan membuat kegiatan berdagang tidak lagi memberikan hasil seperti sebelumnya.

Selain menutup usaha, beberapa warga dan pelaku wisata mencari alternatif pendapatan melalui kegiatan perkebunan. Mereka menjalankan pekerjaan tersebut sembari menunggu perubahan musim membawa air kembali ke Bunut Ngengkang.

Siklus Kekeringan Bukan Hal Baru bagi Warga

Masyarakat yang tinggal dan bekerja di sekitar kawasan tersebut sebenarnya telah mengenal perubahan kondisi air dari tahun ke tahun. Kemarau dapat membuat pasokan air menyusut dalam waktu yang cukup panjang.

Menurut pengalaman Siti, periode kering tidak selalu berakhir dalam waktu singkat. Dalam beberapa kondisi, masyarakat harus menunggu sekitar dua hingga tiga bulan sebelum air kembali muncul. Untuk periode kali ini, warga telah menghadapi kondisi kering selama kurang lebih satu bulan.

Karena itu, datangnya hujan menjadi penentu pemulihan pemandian. Ketika curah hujan kembali meningkat, masyarakat biasanya melihat sumber air dan aliran di kawasan tersebut berangsur pulih.

Namun, selama proses itu belum terjadi, pelaku usaha harus menyesuaikan aktivitas ekonomi dengan keadaan lingkungan.

Pemandian Bunut Ngengkang

Pemandian Bunut Ngengkang di Lombok Barat, NTB, mengering akibat kemarau. Hal ini berdampak pada pedagang yang berjualan di sekitarnya.

Pesona Utama Bunut Ngengkang Belum Bisa Dinikmati

Dalam kondisi normal, wisatawan mengenal Bunut Ngengkang sebagai kawasan pemandian alami yang menawarkan lingkungan sejuk. Air dengan tampilan biru toska menjadi salah satu unsur yang menarik perhatian pengunjung.

Kemarau mengubah situasi tersebut. Berkurangnya pasokan air membuat pengunjung belum bisa menikmati pengalaman wisata air sebagaimana ketika debit berada dalam kondisi normal.

Meskipun demikian, kawasan itu tidak sepenuhnya kehilangan pengunjung. Sejumlah wisatawan dari luar negeri masih mendatangi Bunut Ngengkang saat kondisi kering berlangsung.

Kedatangan mereka menunjukkan bahwa lingkungan sekitar tetap memiliki daya tarik. Akan tetapi, kondisi air saat ini membuat fungsi pemandian belum kembali seperti sebelumnya.

Kemarau Panjang Membayangi NTB

Pelaku wisata juga menghadapi ketidakpastian mengenai kapan kondisi air akan membaik. Perkiraan cuaca menunjukkan bahwa periode kering di NTB masih berpeluang bertahan dalam beberapa waktu ke depan.

BMKG memperkirakan musim kemarau di NTB dapat berlangsung sampai penghujung November 2026. Selain itu, awal periode hujan berpotensi bergeser dari November menuju Desember.

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini mengaitkan kondisi tersebut dengan pengaruh El Nino. Fenomena itu berada pada kategori sangat kuat dengan indeks +2,74 derajat Celsius.

Apabila periode tanpa hujan bertahan lebih lama, masyarakat sekitar Bunut Ngengkang harus terus menyesuaikan aktivitasnya dengan keterbatasan pasokan air.

Warga Menanti Air Kembali Menghidupkan Aktivitas Wisata

Bagi masyarakat sekitar, keberadaan air memiliki arti lebih besar daripada sekadar melengkapi pemandangan. Air turut menentukan kedatangan wisatawan dan perputaran usaha di kawasan Bunut Ngengkang.

Kondisi sekarang memperlihatkan hubungan tersebut secara jelas. Penurunan daya tarik wisata air langsung beriringan dengan berkurangnya pembeli di warung sekitar.

Masing-masing warga akhirnya mengambil pilihan berbeda. Ada pedagang yang tetap membuka warung meski pendapatannya menyusut. Sebaliknya, sebagian memilih berhenti sementara atau mengandalkan kegiatan perkebunan.

Mereka kini menunggu musim berganti. Hujan nantinya berpeluang mengembalikan pasokan air, sementara pulihnya pemandian dapat membuka kembali kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik dari aktivitas wisata.

Bagi Bunut Ngengkang, perubahan musim tersebut menjadi faktor penting untuk mengembalikan karakter utama destinasi alam ini. Hingga air kembali tersedia, masyarakat sekitar harus bertahan dan menyesuaikan kegiatan ekonomi dengan kondisi kemarau yang sedang berlangsung.