Karhutla Pusat Rehabilitasi Orangutan Ketapang menjadi perhatian serius setelah kebakaran hutan dan lahan mendekati kawasan Pusat Rehabilitasi Orangutan milik Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Untuk menghambat laju api agar tidak memasuki area rehabilitasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan helikopter water bombing. Pada saat yang sama, tim gabungan terus melakukan pemadaman dari darat demi menjaga keselamatan satwa serta kelestarian kawasan hutan di sekitarnya.
Upaya penanganan berlangsung secara terpadu dengan melibatkan berbagai unsur. Petugas bekerja tanpa henti untuk mengendalikan kobaran api yang berpotensi meluas akibat kondisi cuaca yang kering. Selain melindungi fasilitas rehabilitasi, operasi ini juga bertujuan menjaga habitat alami satwa liar yang berada di kawasan tersebut.
BNPB Perkuat Operasi Pemadaman dari Udara dan Darat
Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, menjelaskan bahwa kebakaran di sekitar pusat rehabilitasi masih berada dalam tahap penanganan intensif. Tim gabungan terus memusatkan perhatian pada upaya pemadaman sekaligus membangun penghalang agar api tidak memasuki kawasan rehabilitasi maupun hutan di sekitarnya.
Menurutnya, pengerahan helikopter water bombing menjadi langkah penting karena sejumlah titik api berada di lokasi yang sulit di jangkau kendaraan maupun personel darat. Dengan bantuan pemadaman dari udara, proses pengendalian kebakaran dapat berlangsung lebih cepat sehingga risiko perluasan area terdampak bisa di tekan.
Argitoe mengungkapkan bahwa petugas pertama kali mendeteksi kebakaran pada 22 Juli 2026. Berdasarkan pendataan awal, luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 15 hektare. Namun, tim di lapangan masih terus melakukan pemetaan karena kondisi kebakaran dapat berubah seiring arah angin dan situasi cuaca.
Operasi gabungan tidak hanya berfokus memadamkan api, tetapi juga melakukan pemantauan terhadap titik-titik panas yang berpotensi memunculkan kobaran baru. Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk memastikan kebakaran tidak kembali meluas setelah proses pemadaman selesai.
Keselamatan Orangutan Menjadi Prioritas Utama
YIARI langsung mengaktifkan prosedur tanggap darurat setelah kebakaran mendekati kawasan rehabilitasi. Tim dokter hewan bersama animal keeper meningkatkan pengawasan terhadap seluruh orangutan yang sedang menjalani proses rehabilitasi.
Argitoe memastikan seluruh orangutan dalam kondisi aman. Tim terus memantau kesehatan satwa secara berkala untuk mengantisipasi dampak asap maupun perubahan kualitas udara yang dapat memengaruhi kondisi mereka.
Selain menjaga satwa, petugas juga memastikan seluruh fasilitas penting di pusat rehabilitasi tetap berfungsi dengan baik. Langkah tersebut bertujuan agar proses perawatan, pemberian pakan, hingga pemantauan kesehatan orangutan dapat terus berjalan tanpa gangguan.
Keberadaan pusat rehabilitasi memiliki peran penting dalam upaya konservasi orangutan Kalimantan. Oleh karena itu, perlindungan terhadap kawasan tersebut menjadi prioritas agar proses pemulihan satwa tetap berlangsung sesuai rencana.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendekati kawasan Pusat Rehabilitasi Orangutan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar), Kamis (23/7/2026).
Karhutla Mengancam Ekosistem dan Habitat Satwa Liar
Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengancam bangunan maupun fasilitas rehabilitasi. Kobaran api juga berpotensi merusak ekosistem hutan yang menjadi habitat berbagai jenis satwa liar di Kalimantan Barat.
Argitoe menjelaskan bahwa cuaca kering yang di sertai tiupan angin meningkatkan risiko penyebaran api ke wilayah lain. Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja lebih cepat agar kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas.
Selain kerusakan vegetasi, asap hasil kebakaran turut menurunkan kualitas udara di sekitar lokasi. Dampak tersebut dapat memengaruhi kesehatan satwa liar maupun masyarakat yang berada di sekitar kawasan terdampak.
Karhutla juga berpotensi mengurangi ketersediaan sumber pakan alami bagi satwa yang hidup di hutan. Jika kebakaran meluas, proses pemulihan ekosistem membutuhkan waktu yang tidak singkat karena vegetasi harus tumbuh kembali sebelum habitat benar-benar pulih.
Karena itu, seluruh pihak terus memperkuat koordinasi agar kebakaran segera terkendali. Perlindungan terhadap kawasan hutan di nilai sangat penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus mempertahankan populasi satwa yang bergantung pada habitat tersebut.
Masyarakat Diminta Berperan Aktif Mencegah Karhutla
Pelaksana Tugas Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang, Efendi, mengatakan seluruh unsur yang terlibat di lapangan terus memperkuat sinergi dalam operasi pemadaman. Menurutnya, kerja sama lintas instansi menjadi faktor penting untuk mempercepat pengendalian api.
Efendi juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut dapat memicu kebakaran yang lebih besar, terutama ketika musim kemarau menyebabkan vegetasi menjadi sangat kering.
Selain itu, masyarakat di harapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun indikasi kebakaran. Laporan sejak dini memungkinkan petugas melakukan penanganan lebih cepat sebelum api berkembang menjadi sulit dikendalikan.
Pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif dalam menghadapi ancaman karhutla. Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, organisasi konservasi, dan tim pemadam, peluang menjaga kawasan rehabilitasi orangutan serta kelestarian hutan Kalimantan akan semakin besar. Operasi pemadaman yang saat ini berlangsung di harapkan mampu menghentikan penyebaran api sehingga satwa liar, lingkungan, dan masyarakat sekitar tetap terlindungi.