Final Piala Dunia 2026 – Hubungan antara UEFA dan FIFA kembali menjadi sorotan setelah Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, memilih tidak menghadiri laga final Piala Dunia 2026. Keputusan tersebut memicu berbagai spekulasi karena di anggap bukan sekadar alasan pribadi, melainkan bentuk ketidaksetujuan terhadap sejumlah kebijakan yang di terapkan FIFA selama turnamen berlangsung.

Di sisi lain, partai puncak Piala Dunia 2026 tetap menyuguhkan pertandingan sengit. Spanyol berhasil mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7/2026). Gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu memastikan La Furia Roja mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah.

Meski demikian, kemenangan Spanyol justru di bayangi oleh memanasnya hubungan antara dua organisasi sepak bola terbesar dunia. Ketidakhadiran Ceferin menjadi salah satu isu yang paling banyak di perbincangkan setelah pertandingan berakhir.

UEFA Soroti Sejumlah Keputusan FIFA Selama Turnamen

Berdasarkan berbagai laporan media internasional, absennya Ceferin di sebut berkaitan dengan ketidakpuasan UEFA terhadap sejumlah keputusan yang di ambil FIFA sepanjang Piala Dunia 2026. Organisasi sepak bola Eropa itu menilai beberapa kebijakan yang di terapkan telah menimbulkan polemik dan memicu pertanyaan mengenai konsistensi penerapan regulasi.

Salah satu kasus yang paling mendapat perhatian adalah pencabutan hukuman larangan bermain terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Sebelumnya, pemain tersebut di jatuhi sanksi akibat kartu merah. Akan tetapi, Komite Disiplin FIFA kemudian membatalkan hukuman tersebut sebelum pertandingan berikutnya.

Akibat keputusan itu, UEFA menyampaikan kritik keras. Organisasi tersebut menilai perubahan sanksi dilakukan tanpa dasar yang cukup kuat. Sehingga berpotensi mengurangi kepercayaan terhadap sistem disiplin yang berlaku di level internasional.

Selain itu, muncul pula pemberitaan yang menyebut proses peninjauan ulang dilakukan setelah adanya permintaan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino. Kondisi tersebut kemudian memunculkan dugaan mengenai kemungkinan adanya pengaruh politik terhadap proses pengambilan keputusan.

Kontroversi Wasit dan Perlakuan terhadap Tim Nasional Iran

Tidak hanya kasus Balogun, UEFA juga menyoroti sejumlah persoalan lain yang terjadi selama turnamen berlangsung.

Salah satunya berkaitan dengan wasit asal Somalia, Omar Artan, yang di laporkan dipulangkan oleh otoritas Amerika Serikat sebelum kompetisi di mulai. Peristiwa tersebut di nilai menjadi perhatian karena FIFA di anggap tidak mampu memberikan perlindungan yang memadai kepada perangkat pertandingan.

Sebagai bentuk dukungan, UEFA kemudian menunjuk Omar Artan untuk memimpin laga Final Piala Super UEFA yang di jadwalkan berlangsung pada bulan berikutnya.

Sementara itu, perlakuan terhadap Timnas Iran juga menjadi bahan evaluasi. Menurut berbagai laporan, skuad Iran menghadapi prosedur imigrasi yang lebih ketat di bandingkan negara peserta lainnya. Situasi tersebut bahkan membuat pelatih Amir Ghalenoei menyebut timnya sebagai salah satu peserta yang mengalami perlakuan paling berat selama kompetisi.

Di samping itu, komentar seorang pejabat Amerika Serikat yang mengaku senang atas tersingkirnya Iran dari turnamen turut memancing reaksi publik. Pernyataan tersebut di nilai kurang mencerminkan netralitas dalam penyelenggaraan ajang olahraga internasional.

Aleksander Ceferin absen pada final Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protes UEFA terhadap sejumlah kebijakan FIFA selama turnamen.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin dalam sebuah pertemuan di markas UEFA, Nyon, Swiss, pada 4 Desember 2019.

Perbedaan Pandangan Mengenai Aturan Pertandingan

Selain mengkritik berbagai keputusan di luar lapangan, UEFA juga tidak sepenuhnya sepakat dengan sejumlah perubahan regulasi yang di terapkan FIFA.

Sebagai contoh, UEFA menilai interpretasi baru terhadap protokol Video Assistant Referee (VAR). Terutama terkait kasus mistaken identity, masih memerlukan kajian lebih mendalam sebelum diberlakukan secara luas.

Kemudian, organisasi tersebut juga belum berencana mengadopsi aturan yang memungkinkan pemain di kenai sanksi karena menutupi mulut saat berbicara dengan lawan di lapangan. Menurut UEFA, regulasi semacam itu masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut agar penerapannya tidak menimbulkan multitafsir.

Selanjutnya, jeda hidrasi selama pertandingan juga menjadi perhatian. UEFA berpandangan bahwa kebijakan tersebut membuat ritme pertandingan berubah karena laga terasa terbagi menjadi beberapa bagian. Selain itu, durasi jeda babak pertama pada final Piala Dunia yang mencapai sekitar 27 menit di anggap melampaui ketentuan Laws of the Game yang menetapkan waktu istirahat maksimal selama 15 menit.

Perbedaan Pendekatan Berlanjut hingga Penjualan Tiket

Perbedaan pandangan antara UEFA dan FIFA ternyata tidak hanya terjadi pada aspek pertandingan. Ceferin juga pernah mengkritik sistem penjualan tiket yang di terapkan FIFA selama Piala Dunia 2026.

Sebaliknya, UEFA memastikan penyelenggaraan Euro 2028 akan mengedepankan akses yang lebih luas bagi suporter. Organisasi tersebut menyatakan sekitar 40 persen tiket akan di jual pada kategori harga terjangkau, yakni sekitar 30 hingga 60 pound sterling.

Di samping itu, UEFA menegaskan tidak akan menerapkan sistem harga dinamis yang memungkinkan harga tiket berubah mengikuti tingkat permintaan pasar.

Walaupun memilih tidak menghadiri laga final, Ceferin sebelumnya sempat hadir dalam pertandingan pembuka Piala Dunia 2026 di Mexico City. Namun, seiring munculnya berbagai kontroversi sepanjang turnamen, hubungan antara UEFA dan FIFA di nilai semakin renggang. Oleh karena itu, absennya Presiden UEFA pada partai puncak di pandang sebagai simbol ketidakpuasan terhadap sejumlah kebijakan yang di terapkan selama kompetisi berlangsung.