Jatung Utang menjadi salah satu alat musik tradisional khas masyarakat Dayak di Kabupaten Bulungan dan Malinau, Kalimantan Utara. Instrumen berbahan kayu ini memiliki bentuk yang menyerupai kolintang dan hingga kini masih di mainkan oleh masyarakat sebagai bagian dari pelestarian budaya. Keberadaannya tidak hanya mempertahankan nilai sejarah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana warisan leluhur mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di Desa Metun Sajau, misalnya, kesenian ini masih hidup dan terus di wariskan kepada generasi berikutnya melalui berbagai pertunjukan budaya.
Jatung Utang Berawal sebagai Sarana Hiburan Para Peladang
Pada masa lalu, masyarakat Dayak memanfaatkan Jatung Utang sebagai hiburan ketika beristirahat setelah bekerja di ladang. Alunan nada yang di hasilkan mampu menciptakan suasana santai sekaligus menghilangkan rasa lelah setelah menjalani aktivitas bercocok tanam.
Selain berfungsi sebagai hiburan, alat musik ini juga memiliki peran praktis dalam kehidupan masyarakat. Pemain Jatung Utang menggunakan bunyinya sebagai penanda bahwa mereka telah tiba di area ladang miliknya. Dengan begitu, para peladang lain yang berada di sekitar lokasi dapat mengetahui keberadaan pemilik lahan tanpa harus saling bertemu secara langsung.
Cara memainkan Jatung Utang pada masa itu juga berbeda dengan bentuk yang di kenal sekarang. Masyarakat menggantungkan alat musik tersebut menggunakan tali rotan pada bagian atas pondok ladang. Setelah itu, mereka mengikat bagian bawahnya pada kayu atau batu agar posisi alat tetap stabil. Teknik tersebut membantu menghasilkan resonansi suara yang lebih kuat dan jernih.
Perubahan Bentuk Membuat Jatung Utang Lebih Fleksibel
Seiring berkembangnya waktu, masyarakat mulai mengembangkan desain Jatung Utang agar lebih praktis di gunakan dalam berbagai kegiatan. Mereka tidak lagi menggantungkan alat musik tersebut, melainkan menempatkannya di atas sebuah kotak kayu khusus yang berfungsi sebagai ruang resonansi.
Kotak kayu itu umumnya memiliki panjang sekitar 90 hingga 100 sentimeter. Menariknya, bagian ujung kotak di buat lebih sempit agar sesuai dengan ukuran bilah kayu penyusun nada. Desain tersebut tidak hanya memperkuat kualitas suara, tetapi juga mempermudah proses penyimpanan dan pemindahan alat musik.
Transformasi bentuk tersebut membuat Jatung Utang semakin mudah di mainkan dalam berbagai acara budaya. Kini masyarakat lebih sering menghadirkannya pada upacara adat, pertunjukan seni tradisional, hingga sebagai pengiring lagu rohani di gereja. Walaupun fungsi utamanya telah berubah, nilai budaya yang melekat pada alat musik ini tetap terjaga.

Foto: Alat musik tradisional jatung utang khas Kaltara.
Pemilihan Kayu Menentukan Kualitas Bunyi
Perajin memilih bahan baku secara teliti untuk menghasilkan Jatung Utang dengan kualitas suara terbaik. Mereka biasanya menggunakan kayu kapit mawat atau kayu timaha yang tumbuh di kawasan hutan Kalimantan Utara.
Setelah menebang pohon, perajin memotong batang kayu menjadi beberapa bagian dengan ukuran sekitar sebesar lengan dan panjang antara 80 hingga 90 sentimeter. Selanjutnya, mereka menjemur potongan kayu hingga benar-benar kering agar tidak mudah berubah bentuk ketika di proses menjadi bilah nada.
Sambil menunggu kayu mengering, para perajin membuat kotak kayu terbuka sebagai tempat meletakkan bilah-bilah nada. Ukuran kotak tersebut memiliki pengaruh besar terhadap karakter suara yang di hasilkan. Kotak dengan ukuran lebih lebar mampu menghasilkan nada yang lebih rendah, sedangkan kotak yang lebih sempit cenderung menghasilkan suara yang lebih tinggi.
Penyelarasan Nada Membutuhkan Ketelitian Tinggi
Tahap penyetelan nada menjadi bagian yang paling penting dalam proses pembuatan Jatung Utang. Perajin mengikis bagian belakang setiap bilah kayu menggunakan parang secara perlahan hingga memperoleh nada yang sesuai.
Mereka juga menjaga ketebalan bagian tengah kayu agar tetap sekitar tiga sentimeter. Langkah tersebut sangat penting karena ketebalan kayu memengaruhi kestabilan suara. Jika terlalu tipis atau terlalu tebal, nada yang muncul akan terdengar kurang harmonis.
Pada awal perkembangannya, masyarakat Dayak Kenyah belum menggunakan susunan nada fa dan si. Namun, perkembangan musik modern mendorong para perajin untuk menambahkan kedua nada tersebut. Mereka melakukan penyelarasan dengan sangat teliti sehingga Jatung Utang dapat di mainkan bersama alat musik modern tanpa mengurangi karakter bunyinya.
Cara Memainkan Jatung Utang
Meskipun terlihat sederhana, memainkan Jatung Utang membutuhkan ketepatan ritme dan koordinasi tangan. Pemain memukul setiap bilah kayu menggunakan dua batang pemukul yang terpisah.
Setiap bilah menghasilkan nada berbeda karena memiliki ukuran panjang dan ketebalan yang tidak sama. Kombinasi seluruh nada tersebut menciptakan irama khas yang menjadi identitas musik tradisional masyarakat Dayak.
Hingga kini, Jatung Utang tidak hanya menjadi simbol budaya Kalimantan Utara, tetapi juga menjadi bukti bahwa warisan leluhur dapat terus bertahan ketika masyarakat aktif melestarikan dan memperkenalkannya kepada generasi muda. Dengan mempertahankan tradisi ini, masyarakat Dayak ikut menjaga kekayaan budaya Indonesia agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.