Legenda Batu Sawah Messawa menjadi salah satu cerita rakyat yang masih hidup di tengah masyarakat Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Cerita turun-temurun tersebut mengisahkan seekor ular berukuran sangat besar yang pernah membuat warga resah karena merusak tanaman dan memangsa ternak. Masyarakat kemudian menghubungkan akhir perjalanan ular itu dengan sebuah batu besar yang hingga sekarang masih dapat ditemukan di wilayah Messawa.
Messawa merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Mamasa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Polewali Mandar. Wilayah ini memiliki luas sekitar 150,88 kilometer persegi dan berjarak kurang lebih 56 kilometer dari pusat Kabupaten Mamasa.
Selain memiliki bentang alam khas pegunungan Sulawesi Barat, Messawa juga menyimpan berbagai cerita lokal yang masyarakat wariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Salah satunya berkaitan dengan Batu Sawah yang dipercaya memiliki hubungan dengan asal-usul nama Messawa.
Batu Sawah Menjadi Jejak Cerita Masyarakat Messawa
Masyarakat setempat mengenal sebuah batu besar di sekitar aliran sungai kecil sebagai Batu Sawah. Lokasinya berjarak sekitar satu kilometer dari kawasan permukiman warga.
Batu tersebut memiliki ukuran kurang lebih 1,5 x 3 meter. Bentuknya cenderung oval, sementara sejumlah bagian permukaannya memperlihatkan pola bergelombang. Warga sejak lama mengaitkan pola tersebut dengan bentuk lilitan seekor ular berukuran besar.
Namun, perubahan kondisi alam secara perlahan memengaruhi bentuk Batu Sawah. Proses pengikisan membuat pola yang menyerupai lilitan ular semakin sulit terlihat dengan jelas.
Tokoh masyarakat setempat, Jufri Allo, menjelaskan bahwa masyarakat menghubungkan batu tersebut dengan cerita mengenai seekor ular besar yang dahulu mereka kenal sebagai ular sawah. Menurut cerita yang berkembang, perjalanan panjang untuk mencari ular itu kemudian ikut melatarbelakangi penyebutan Mesawa sebelum nama tersebut berkembang menjadi Messawa.
Kisah Ular Raksasa Bermula dari Sindagamanik
Cerita masyarakat menyebut kemunculan ular tersebut bermula di kawasan Sindagamanik, Mamasa. Warga mengenal lokasi awal kemunculannya dengan sebutan Banua Sawah.
Ukuran ular yang sangat besar membuat masyarakat khawatir. Hewan tersebut kerap memasuki area pertanian, merusak tanaman, serta memangsa ternak milik penduduk. Gangguan yang terus terjadi akhirnya mendorong warga untuk melakukan perburuan.
Ketika masyarakat mengejarnya, ular itu meninggalkan Sindagamanik dan menyusuri aliran sungai. Hewan tersebut berenang hingga menempuh perjalanan puluhan kilometer sebelum mencapai wilayah yang sekarang termasuk Kecamatan Sumarorong.
Warga di kawasan itu kembali mengetahui keberadaan ular tersebut setelah gangguan serupa muncul. Mereka kemudian meneruskan perburuan.
Dalam salah satu pengejaran, seorang warga berhasil melukai ular tersebut dengan tebasan. Masyarakat selanjutnya mengenang lokasi kejadian itu melalui nama Battang Sawah.
Ular Terluka Bersembunyi di Desa Makuang
Meski mengalami luka, ular tersebut masih mampu melarikan diri. Hewan itu kembali memanfaatkan aliran sungai untuk menjauh dari kejaran masyarakat.
Perjalanannya kemudian membawanya menuju kawasan Desa Makuang. Menurut cerita Jufri, ular tersebut memilih sebuah tempat untuk bersembunyi sekaligus memulihkan luka akibat tebasan warga.
Masyarakat kemudian menyebut lokasi persembunyian tersebut sebagai Bumbung Sawah. Nama itu merujuk pada tempat yang dalam cerita lokal menjadi lokasi ular bersembunyi selama masa pemulihan.
Ular tersebut kabarnya menghabiskan waktu cukup lama di tempat persembunyian. Setelah kondisinya membaik, hewan itu kembali keluar untuk mencari makanan.
Perjalanan berlanjut melalui Sungai Salu Kupang sebelum ular memasuki aliran Sungai Mamasa. Warga kembali mengetahui kemunculannya ketika melihat hewan tersebut bergerak melawan arus sungai.

Foto: Batu diduga jelmaan ular yang menjadi asal-usul nama Kecamatan Messawa di Mamasa, Sulawesi Barat.
Batu Besar Dikaitkan dengan Akhir Perjalanan Ular
Setelah kembali menyusuri Sungai Mamasa, ular tersebut akhirnya menghilang. Masyarakat tidak lagi mengetahui secara pasti keberadaannya.
Cerita rakyat kemudian berkembang ketika warga menemukan batu berukuran besar dengan pola yang mereka anggap menyerupai tubuh ular sedang melilit. Temuan tersebut melahirkan keyakinan bahwa ular raksasa yang selama ini mereka kejar telah berubah menjadi batu.
Dalam cerita yang berkembang dari generasi ke generasi, masyarakat menganggap perubahan itu sebagai sebuah kutukan. Ular tersebut konon menerima kutukan karena sebelumnya terus mengganggu kehidupan penduduk, merusak tanaman, serta memangsa ternak.
Batu yang kemudian terkenal sebagai Batu Sawah itulah yang sampai sekarang menjadi pengingat fisik atas legenda tersebut. Meski masyarakat tidak menempatkan cerita ini sebagai catatan sejarah ilmiah, kisahnya tetap memiliki nilai penting sebagai bagian dari tradisi lisan dan identitas budaya lokal.
Cerita Ular dan Asal-usul Nama Messawa
Legenda Batu Sawah Messawa juga berkaitan erat dengan cerita mengenai penamaan wilayah tersebut. Jufri menjelaskan bahwa masyarakat pada mulanya mengenal daerah itu dengan nama Mesawa.
Dalam penuturan masyarakat setempat, istilah tersebut berkaitan dengan aktivitas pencarian ular yang pernah dilakukan warga. Penyebutannya kemudian mengalami perubahan seiring perjalanan waktu.
Jufri menuturkan bahwa pada masa kolonial terjadi perubahan pelafalan yang membuat nama Mesawa berkembang menjadi Messawa dengan penggunaan dua huruf “s”. Nama Messawa selanjutnya bertahan dan masyarakat menggunakannya hingga sekarang sebagai nama kecamatan.
Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat dapat menghubungkan nama sebuah wilayah dengan pengalaman kolektif yang kemudian mereka pertahankan melalui tradisi lisan.
Ular Sawah Masih Ditemukan di Kawasan Messawa
Keberadaan ular sawah ternyata tidak sepenuhnya hilang dari wilayah Messawa. Warga hingga kini masih sesekali menjumpai ular di kawasan tersebut.
Namun, ukuran ular yang mereka temukan jauh lebih kecil dibandingkan sosok dalam legenda. Karena ukurannya relatif kecil, keberadaan hewan tersebut juga tidak menimbulkan keresahan sebesar cerita pada masa lampau.
Menurut Jufri, salah satu ular terbesar yang pernah warga temukan memiliki panjang sekitar empat meter. Ular itu pernah memangsa seekor anak babi.
Sementara itu, Batu Sawah menyimpan potensi sebagai bagian dari wisata budaya dan cerita rakyat Mamasa. Lokasi tersebut dapat memperkenalkan pengunjung pada tradisi lisan sekaligus sejarah penamaan wilayah menurut penuturan masyarakat setempat.
Kondisi batu yang terus mengalami pengikisan menjadi tantangan tersendiri. Jika masyarakat dan pemerintah daerah melakukan upaya pelestarian secara tepat, Batu Sawah berpeluang menjadi sarana untuk menjaga cerita lokal sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Messawa kepada generasi berikutnya.
Legenda mengenai ular raksasa memang berada dalam ranah cerita turun-temurun yang tidak dapat disamakan dengan fakta sejarah yang telah terverifikasi secara ilmiah. Namun, kisah tersebut tetap memperlihatkan cara masyarakat Mamasa menjaga ingatan kolektif, menjelaskan asal-usul tempat, serta mewariskan identitas daerah melalui cerita dari generasi ke generasi.