Konflik Yaman kembali memasuki fase berbahaya setelah ketegangan antara kelompok Houthi dan pasukan yang mendukung pemerintah meningkat tajam. Pertempuran yang muncul lagi setelah beberapa tahun relatif mereda itu telah merenggut lebih dari 300 nyawa. Selain itu, ribuan warga meninggalkan tempat tinggal mereka demi menghindari area pertempuran.

Eskalasi terbaru bermula dari persoalan penerbangan Iran menuju Sana’a. Pesawat tersebut tiba di ibu kota Yaman tanpa memperoleh izin dari Arab Saudi. Riyadh memandang tindakan itu sebagai bentuk penentangan terhadap kendalinya atas ruang udara Yaman.

Situasi kemudian berkembang menjadi rangkaian serangan. Pihak tertentu menuding Arab Saudi berada di balik serangan terhadap bandara Sana’a. Houthi selanjutnya melancarkan serangan balasan. Sejak saat itu, intensitas bentrokan terus meningkat dan mengakhiri masa tenang yang sebelumnya bertahan selama beberapa tahun.

Houthi Memperkuat Kemampuan Selama Masa Tenang

Farea Al Muslimi, analis dari Chatham House di London, melihat peningkatan konflik saat ini sebagai perkembangan yang dapat diperkirakan. Menurut penilaiannya, Houthi menggunakan periode setelah gencatan senjata 2022 untuk meningkatkan kemampuan militernya.

Kelompok tersebut melatih pasukan, menambah kekuatan persenjataan, serta mengembangkan teknologi baru. Dengan demikian, Houthi memasuki babak pertempuran terbaru dengan kemampuan yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya.

Pada saat bersamaan, kubu yang mendukung Pemerintah Yaman menghadapi persoalan berbeda. Berbagai kelompok yang berada dalam barisan tersebut semakin terpecah. Kondisi itu membuat koordinasi antarfaksi menjadi lebih sulit.

Al Muslimi menilai kelompok-kelompok tersebut sejak awal memang menghadapi kendala dalam membangun koordinasi. Perbedaan kondisi kedua kubu itu akhirnya ikut menentukan dinamika pertempuran yang sekarang berlangsung.

Bab El Mandeb Menjadi Sasaran Penting

Perkembangan konflik Yaman tidak hanya menyangkut perebutan wilayah daratan. Para pengamat juga menyoroti ambisi Houthi terhadap kawasan di sekitar Selat Bab El Mandeb di bagian barat daya Yaman.

Selat tersebut mempunyai posisi penting bagi pelayaran internasional. Bab El Mandeb membuka akses menuju Laut Merah, kemudian menghubungkan jalur pelayaran dengan Terusan Suez dan Laut Tengah. Kapal dari Asia dapat menggunakan rute itu untuk menuju Eropa maupun Amerika Utara dengan waktu perjalanan yang lebih singkat.

Karena itu, penguasaan kawasan tersebut membawa pengaruh besar terhadap lalu lintas kapal komersial. Jika Houthi memperluas kendalinya di sepanjang Bab El Mandeb, kelompok itu juga dapat meningkatkan kemampuan untuk memberikan tekanan terhadap pelayaran di Laut Merah dan Teluk Aden.

Situasi serupa pernah muncul selama perang Gaza. Gangguan keamanan saat itu membuat sejumlah kapal memilih rute yang lebih panjang dengan mengitari ujung selatan Afrika.

konflik Yaman

Prajurit Houthi berjalan dalam rangka merekrut lebih banyak anggota di Sana’a, Yaman.

Blokade Hormuz Meningkatkan Nilai Strategis Bab El Mandeb

Posisi Bab El Mandeb menjadi semakin penting setelah Iran memblokade Selat Hormuz yang berada di sisi lain Semenanjung Arab. Kondisi tersebut mendorong Arab Saudi mengalihkan sebagian besar jalur ekspor minyak menuju Laut Merah.

Perubahan rute itu terlihat dari peningkatan volume ekspor minyak Saudi yang melintasi Bab El Mandeb. Dalam periode Maret hingga pertengahan Juli, jumlahnya melonjak hingga delapan kali lipat.

Peneliti asal Yaman, Ahmed Hazaa, menilai pihak yang mengendalikan selat tersebut akan memperoleh pengaruh besar dalam menentukan kondisi di kawasan. Oleh sebab itu, pertempuran di sekitar jalur tersebut memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas daripada sekadar perebutan wilayah di Yaman.

Dukungan Iran terhadap Houthi Kembali Menjadi Sorotan

Hubungan Houthi dengan Iran turut mendapat perhatian ketika konflik meningkat. Houthi menjalankan operasinya sendiri, tetapi kelompok tersebut menerima dukungan dan pasokan dari Teheran.

Pada Juni 2026, media Iran juga sempat menyinggung kemungkinan Teheran bersama para sekutunya membuka lini lain, termasuk di kawasan Bab El Mandeb.

Ahmed Hazaa menghubungkan operasi terbaru Houthi dengan kepentingan Iran dalam mempertahankan tekanan melalui blokade Selat Hormuz. Menurut pandangannya, perang yang berlangsung tidak memberikan keuntungan bagi masyarakat Yaman. Ia melihat konflik tersebut sebagai bagian dari persaingan regional yang melibatkan kekuatan dari luar Yaman.

Namun, Farea Al Muslimi memberikan penilaian berbeda. Ia tidak melihat setiap tindakan Houthi sebagai operasi yang secara otomatis berjalan atas perintah Iran.

Menurut Al Muslimi, Teheran memang dapat memperoleh keuntungan dari tekanan Houthi terhadap Riyadh. Meski begitu, keuntungan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa Iran menentukan seluruh keputusan dan operasi kelompok Houthi.

Ancaman Krisis Kemanusiaan Kembali Membesar

Pertempuran terbaru menambah beban Yaman yang belum sepenuhnya pulih dari perang panjang. Konflik bersenjata sejak 2014 hingga 2022 telah membawa negara tersebut menuju krisis kemanusiaan yang sangat berat.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun lalu mencatat sekitar 17 juta warga Yaman menghadapi krisis pangan. Dari jumlah tersebut, sekitar satu juta orang menghadapi ancaman kelaparan ekstrem.

Selama delapan tahun konflik sebelumnya, Houthi berhasil memperluas kekuasaan atas banyak pusat populasi penting. Kelompok itu juga mempertahankan Sana’a sebagai salah satu wilayah utama dalam kekuasaannya.

Sementara itu, Pemerintah Yaman yang memperoleh pengakuan internasional bersama kelompok pendukungnya mempertahankan wilayah di selatan, termasuk Aden, serta pelabuhan Mokha yang memiliki posisi penting di sekitar Bab El Mandeb.

Gencatan senjata pada 2022 sempat menghentikan perubahan besar di garis pertempuran. Situasi tersebut bertahan hingga Juli 2026 sebelum bentrokan kembali pecah.

Kini, meningkatnya konflik Yaman tidak hanya membawa ancaman baru bagi penduduk sipil. Perebutan wilayah di sekitar Bab El Mandeb, perubahan jalur ekspor minyak Saudi, blokade Selat Hormuz, serta keterlibatan kepentingan regional membuat perkembangan perang memiliki dampak yang lebih luas. Di tengah persaingan tersebut, masyarakat Yaman kembali menghadapi risiko terbesar ketika pertempuran terus meningkat.