Gong Perdamaian Ciamis telah menjadi bagian dari kawasan Karangkamulyan selama 17 tahun. Kehadirannya membawa pesan yang melampaui fungsi sebuah monumen karena masyarakat juga menghubungkannya dengan perjalanan panjang Tatar Galuh dalam merawat persatuan, kerukunan, dan kehidupan yang harmonis.

Pesan tersebut kembali mengemuka pada Rabu, 9 September 2026. Ratusan orang mendatangi Situs Budaya Bojong Galuh Karangkamulyan di Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Mereka berasal dari berbagai kelompok, mulai dari masyarakat umum, anak sekolah, pekerja seni, pegiat budaya, tokoh masyarakat hingga jajaran pemerintah daerah.

Peringatan tahun ini sekaligus menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali nilai perdamaian kepada generasi muda. Pemerintah Kabupaten Ciamis memandang pendidikan tentang kerukunan perlu berjalan sejak anak-anak agar nilai tersebut tidak berhenti sebagai cerita sejarah.

Dari Karangkamulyan, Pesan Damai Terus Bergema

Karangkamulyan memiliki hubungan erat dengan sejarah Tatar Galuh. Keberadaan sebuah gong berukuran besar di kawasan tersebut kemudian menambah makna simbolis tempat ini.

Anton Charliyan dan Yoyo Tjuhaya menggagas keberadaan Gong Perdamaian Dunia di Ciamis. Gagasan itu kemudian terwujud dan masyarakat memperkenalkannya secara resmi pada 9 September 2009.

Pembuat gong mengerjakannya di Yogyakarta dengan menggunakan kombinasi perunggu dan plat besi. Diameternya mencapai 3,33 meter. Ukuran tersebut membuatnya dikenal sebagai Gong Perdamaian terbesar di Indonesia.

Sejak 2009, keberadaan gong itu membawa identitas tersendiri bagi Karangkamulyan. Masyarakat tidak hanya melihatnya sebagai benda berukuran monumental, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan semangat hidup berdampingan tanpa konflik.

Pemerintah daerah ingin menjaga pesan tersebut agar tetap relevan. Terlebih, masyarakat dunia masih menghadapi berbagai ketegangan yang dapat memengaruhi kehidupan sosial maupun ekonomi di banyak negara.

Anak Muda Mendapat Ruang dalam Peringatan Milangkala

Peringatan usia ke-17 menghadirkan banyak pelajar. Anak-anak dari tingkat TK sampai SMP ikut mengambil bagian dalam agenda tersebut.

Keterlibatan mereka memiliki tujuan tersendiri. Pemerintah Kabupaten Ciamis ingin mengenalkan makna kerukunan melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui materi pelajaran di ruang kelas.

Kirab budaya menjadi salah satu sarana untuk menghadirkan pengalaman itu. Anggota paskibra dari kalangan pelajar membawa Merah Putih dalam barisan yang menyatukan unsur budaya dan semangat kebangsaan.

Setelah kirab berakhir, acara berlanjut ke rangkaian utama. Bupati Ciamis Herdiat Sunarya bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah menabuh gong. Sejumlah tokoh kemudian mendapat kesempatan melakukan hal serupa.

Tokoh agama, masyarakat, serta pegiat budaya juga menjalankan bagian lain dari tradisi peringatan. Mereka menggunakan daun hanjuang untuk memercikkan air ke gong. Selanjutnya, penampilan kesenian daerah mengisi bagian akhir kegiatan.

Gong Perdamaian Ciamis

Penabuhan Gong Perdamaian Dunia saat Milangkala ke-17 di Situs Bojonggaluh, Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing.

Sejarah Galuh Menyimpan Pelajaran tentang Persatuan

Pembicaraan mengenai perdamaian di Ciamis tidak hanya bertumpu pada keberadaan gong. Pemerintah daerah juga melihat jejak serupa dalam sejarah Galuh.

Salah satu peristiwa yang menjadi perhatian ialah Mupulung Rahi pada 739 Masehi. Sejarah tersebut berkaitan dengan sepuluh kesepakatan perdamaian di antara keturunan Wretikandayun.

Kesepakatan itu memiliki tujuan penting pada zamannya. Para pihak berusaha mempertahankan kebersamaan sekaligus mencegah pertikaian berkembang menjadi peperangan.

Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menempatkan kisah tersebut sebagai pelajaran yang masih memiliki relevansi hingga sekarang. Menurut pandangannya, masyarakat modern dapat mengambil nilai dari cara leluhur Galuh mencari jalan untuk mempertahankan keharmonisan.

Karena itu, masyarakat tidak cukup sekadar mengenang sejarah melalui seremoni. Mereka perlu membawa nilai yang terkandung di dalamnya ke kehidupan sehari-hari.

Perdamaian Tidak Berhenti pada Ketiadaan Konflik

Pemerintah Kabupaten Ciamis memandang perdamaian sebagai kondisi yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Masyarakat harus membangun sikap saling menghargai, menjaga komunikasi, dan mengendalikan perbedaan agar tidak berkembang menjadi perselisihan.

Herdiat juga menghubungkan gagasan tersebut dengan tujuan bangsa Indonesia. Pembukaan UUD 1945 membawa cita-cita mengenai kehidupan dunia yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Nilai tersebut membuat isu perdamaian memiliki ruang yang jauh lebih luas daripada kepentingan satu daerah.

Perkembangan geopolitik dunia turut memperlihatkan pentingnya stabilitas. Konflik dapat menyebabkan korban manusia dan kerusakan sekaligus menimbulkan tekanan ekonomi yang menjangkau negara lain.

Masyarakat Indonesia pun dapat merasakan efek tidak langsungnya. Perubahan harga energi dan kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu contoh bagaimana gejolak internasional dapat memengaruhi kehidupan masyarakat jauh dari lokasi konflik.

Stabilitas Daerah Membuka Peluang Pembangunan

Bagi Ciamis, menciptakan kehidupan yang kondusif juga mempunyai nilai strategis bagi pembangunan ekonomi.

Daerah yang mampu mempertahankan keamanan akan memiliki modal penting untuk membangun kepercayaan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pertimbangan pelaku usaha ketika memilih wilayah untuk mengembangkan kegiatan ekonomi maupun menanamkan investasi.

Atas dasar itu, pemerintah daerah ingin agar pesan dari Gong Perdamaian Ciamis menghasilkan dampak nyata. Peringatan tahunan seharusnya tidak hanya menghasilkan kegiatan simbolis, tetapi juga mendorong masyarakat menciptakan lingkungan yang nyaman untuk bekerja, berusaha, dan menjalani kehidupan sosial.

Semakin baik stabilitas suatu daerah, semakin besar pula kesempatan pemerintah untuk membangun kepercayaan berbagai pihak. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat membantu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Ciamis Ingin Membawa Pesan Lokal ke Tingkat Internasional

Ada pula keinginan untuk memperluas peran Ciamis dalam mengenalkan nilai perdamaian. Pemerintah daerah melihat sejarah Tatar Galuh sebagai potensi yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat dari luar daerah bahkan luar negeri.

Salah satu gagasan yang muncul ialah menghadirkan perwakilan negara asing yang bertugas di Indonesia ke Ciamis. Mereka nantinya dapat mengenal Karangkamulyan sekaligus mempelajari perjalanan masyarakat Galuh dalam merawat persatuan.

Gagasan tersebut dapat menempatkan peninggalan sejarah sebagai bagian dari pendidikan masa depan. Dengan cara itu, masyarakat tidak sekadar mempertahankan warisan leluhur sebagai peninggalan masa lampau, tetapi juga mengambil nilai yang relevan untuk menghadapi kehidupan modern.

Peringatan 17 tahun Gong Perdamaian Ciamis pada akhirnya mempertemukan beberapa generasi dalam satu ruang. Para tetua membawa ingatan sejarah, pemerintah menyampaikan pesan persatuan, sementara anak-anak memperoleh kesempatan mengenal nilai kerukunan sejak dini.

Bunyi gong mungkin hanya terdengar beberapa saat ketika seseorang menabuhnya. Namun, pesan yang dibawanya memiliki tujuan lebih panjang. Ciamis ingin menjadikan warisan Tatar Galuh sebagai pengingat bahwa masyarakat harus terus membangun keamanan, menghargai perbedaan, serta meneruskan kehidupan yang harmonis kepada generasi berikutnya.