Lailatul Qadar – Pemerintah Kabupaten Morowali kembali menggelar Festival Montunu Hulu 2026 untuk menyambut malam Lailatul Qadar pada 27 Ramadhan 1447 Hijriah. Kegiatan ini berlangsung di Alun-alun Sangiang Kinambuka, Kecamatan Bungku Tengah, dan berhasil menarik perhatian masyarakat.
Penyelenggara menghadirkan sekitar 2.000 pelajar SMP sebagai pembawa obor dalam prosesi utama. Langkah ini menunjukkan upaya nyata dalam melestarikan tradisi sekaligus menanamkan nilai budaya kepada generasi muda.
Montunu Hulu Jadi Identitas Budaya Bungku
Masyarakat Bungku menjadikan Montunu Hulu sebagai bagian penting dari identitas budaya mereka. Tradisi ini menampilkan arak-arakan obor yang melambangkan cahaya, harapan, dan penyucian diri menjelang malam penuh berkah.
Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf, mengajak masyarakat untuk terus menjaga tradisi tersebut. Ia menilai pelestarian budaya menjadi kunci untuk mempertahankan jati diri daerah di tengah perubahan zaman.
Selain itu, ia menegaskan bahwa usia Kabupaten Morowali yang telah melewati dua dekade harus menjadi momentum untuk memperkuat budaya lokal. Dengan cara ini, masyarakat dapat membangun rasa bangga terhadap warisan leluhur.

Bupati Morowali di dampingi Wakil Bupati dan Ketua TP-PKK, kemudian mengikuti rangkaian Festival Montunu Hulu.
Generasi Muda Jadi Kunci Pelestarian
Pemerintah melibatkan pelajar dalam festival ini sebagai langkah strategis. Para siswa tidak hanya mengikuti kegiatan, tetapi juga memahami nilai yang terkandung dalam tradisi Montunu Hulu.
Di sisi lain, generasi muda memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya. Mereka akan menjadi penerus yang memastikan tradisi ini tetap hidup.
Oleh sebab itu, festival ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya yang efektif.
Suasana Festival Penuh Warna dan Makna
Festival Montunu Hulu menghadirkan suasana meriah dengan nuansa budaya yang kental. Panitia menghias area acara dengan lampu-lampu yang menciptakan suasana hangat dan religius.
Para peserta membawa obor yang menyala dan menciptakan pemandangan yang menarik. Selain itu, panitia menampilkan miniatur rumah Ndengu-ndengu sebagai simbol budaya masyarakat Bungku.
Kombinasi visual dan tradisi ini membuat festival semakin menarik sekaligus berpotensi menjadi daya tarik wisata.
Dukungan Pemerintah Perkuat Pelestarian Budaya
Pemerintah daerah menunjukkan dukungan penuh terhadap festival ini. Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, Ketua DPRD, serta unsur Forkopimda turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran para pejabat memperkuat komitmen untuk menjaga dan mengembangkan budaya lokal. Selain itu, dukungan ini menegaskan bahwa budaya memiliki peran penting dalam pembangunan daerah.
Tema Festival Dorong Generasi Berkarakter
Festival Montunu Hulu 2026 mengusung tema yang menekankan pentingnya pelestarian tradisi dan pembentukan karakter generasi muda. Tema ini menghubungkan nilai budaya dengan kemajuan daerah.
Melalui kegiatan ini, pemerintah mendorong masyarakat untuk terus menjaga tradisi. Selain itu, generasi muda diharapkan semakin mencintai budaya lokal.
Bupati Morowali juga menegaskan bahwa Montunu Hulu merupakan kebanggaan daerah yang harus terus dijaga.
Prosesi Pembukaan Sarat Simbol
Bupati Morowali bersama jajaran pimpinan daerah membuka festival dengan menyalakan obor dari tempurung kelapa. Prosesi ini menjadi simbol dimulainya rangkaian kegiatan.
Momen tersebut juga mencerminkan semangat kebersamaan serta harapan akan keberkahan bagi masyarakat Morowali.
Kesimpulan
Festival Montunu Hulu 2026 menunjukkan komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Morowali dalam melestarikan budaya lokal. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga melibatkan generasi muda secara aktif.
Selain itu, festival ini membuka peluang untuk mengembangkan potensi budaya sebagai daya tarik wisata. Dengan dukungan semua pihak, tradisi Montunu Hulu dapat terus berkembang dan tetap relevan di masa depan.
Pada akhirnya, pelestarian budaya menjadi langkah penting untuk menjaga warisan leluhur sekaligus membangun masa depan yang berakar pada nilai-nilai lokal.