Banjir bandang Nepal meninggalkan pengalaman mengerikan bagi Dhan Bahadur Tamang, seorang pekerja berusia 32 tahun yang berada di proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Upper Trishuli 1 ketika bencana menerjang. Di tengah derasnya air yang memasuki terowongan bawah tanah, Tamang berjuang mempertahankan hidup dengan memanjat dan berpegangan pada pipa.
Tamang bekerja sebagai tenaga pendukung di proyek PLTA yang berada di kawasan dekat perbatasan Nepal dan China. Sebelum banjir datang, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa di dalam terowongan.
Tekanan udara tiba-tiba berubah. Pada saat bersamaan, debu mulai beterbangan di bawah cahaya lampu industri. Kondisi tersebut membuat Tamang menyadari bahwa bahaya sedang mendekat.
Menurut kesaksiannya yang diberitakan Reuters, tidak ada pekerja yang benar-benar siap menghadapi gelombang air besar tersebut.
Sebelum mencapai kawasan proyek, banjir telah menghancurkan permukiman di bagian hulu Sungai Trishuli. Air kemudian bergerak mengikuti lembah dan membawa daya rusak besar. Bencana tersebut menewaskan lebih dari 1.252 orang.
Kepanikan Pecah Saat Air Memasuki Terowongan
Situasi di proyek PLTA berubah dalam waktu singkat. Tamang memperkirakan ratusan orang berada di area proyek ketika air mulai menerjang.
Para pekerja langsung berusaha mencari tempat aman. Teriakan memenuhi lokasi ketika mereka berlari dan mencoba menjauh dari jalur air.
Di tengah kekacauan itu, Tamang berhasil naik ke atas sebuah truk tangki. Kendaraan tersebut sempat bergerak, tetapi air terus masuk dan menguasai area terowongan.
Kondisi semakin berbahaya ketika ketinggian air meningkat. Tamang beberapa kali berpikir bahwa ia tidak akan berhasil keluar hidup-hidup.
Namun, naluri bertahan hidup membuatnya terus mencari cara untuk menghindari arus.
Tamang Bertahan dengan Berpegangan pada Pipa
Ketika air memenuhi terowongan, Tamang memanfaatkan benda yang berada di sekitarnya untuk bertahan. Ia memanjat pipa yang terpasang pada dinding agar kepalanya tetap berada di atas permukaan air.
Upaya tersebut membuat salah satu kakinya terluka. Meski demikian, Tamang terus mempertahankan posisinya karena tidak memiliki banyak pilihan.
Pada saat itulah pikirannya tertuju kepada keluarganya. Ia mengingat rumah, kedua orang tuanya, serta orang-orang terdekat yang mungkin tidak dapat ia temui kembali.
Rasa takut membuatnya menangis dan berteriak. Namun, ia tetap berusaha mempertahankan pegangan sampai kekuatan air perlahan menurun.
Setelah arus mulai melemah, Tamang menyadari bahwa dirinya berhasil bertahan. Ia juga menemukan beberapa pekerja lain yang selamat dari terjangan banjir.
Masalah belum berakhir. Kelompok penyintas tersebut harus menemukan jalan keluar dari terowongan yang sudah porak-poranda.

Proses evakuasi bencana banjir bandang Nepal-Tibet pada Rabu (26/8/2026).
Jalur Keluar Tertutup Material Banjir
Tamang dan pekerja lainnya mencoba bergerak menuju pintu masuk. Akan tetapi, tumpukan puing dan material yang terbawa banjir menutup akses utama.
Karena jalur tersebut tidak bisa mereka gunakan, para penyintas memilih menelusuri bagian lain dari jaringan terowongan.
Perjalanan itu menghadirkan pemandangan yang sulit mereka lupakan. Dalam perjalanan mencari jalan keluar, Tamang melihat jasad para pekerja yang tidak berhasil menyelamatkan diri.
Ia juga menemukan sejumlah korban yang mengalami luka sangat berat. Situasi yang berbahaya membuat kelompok tersebut tidak mampu memberikan pertolongan kepada semua korban.
Mereka akhirnya harus terus bergerak untuk menyelamatkan diri.
Menembus Terowongan Gelap dengan Satu Senter
Banjir juga membuat kondisi di dalam terowongan menjadi sangat gelap. Tamang dan para penyintas kemudian saling menggenggam tangan agar rombongan tidak terpisah.
Mereka hanya mengandalkan satu senter sebagai sumber penerangan.
Dengan cahaya yang terbatas, kelompok tersebut melewati air, tumpukan reruntuhan, serta berbagai hambatan di sepanjang terowongan. Mereka harus bergerak dengan hati-hati sambil mencari jalur yang memungkinkan untuk mencapai permukaan.
Perjalanan panjang itu akhirnya membawa mereka menuju sebuah titik yang memperlihatkan cahaya Matahari.
Bagi Tamang, pemandangan dunia luar terasa berbeda setelah ia menghabiskan waktu dalam kondisi gelap dan penuh ancaman. Ia dan para penyintas akhirnya berhasil meninggalkan terowongan.
Warga sekitar segera membantu mereka. Para penduduk memberikan pakaian kering kepada pekerja yang keluar dalam kondisi menggigil.
Tamang Akhirnya Bertemu Kembali dengan Istri
Proses penanganan korban tidak langsung berjalan lancar. Kabut tebal menghambat helikopter yang hendak melakukan operasi penyelamatan di kawasan terdampak.
Tamang tetap berusaha mencari jalan agar dapat kembali kepada keluarganya. Dengan bantuan warga desa, ia berjalan melintasi wilayah yang terdampak bencana.
Petugas kemudian membawanya ke sebuah hotel sebelum ia menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit.
Perjuangan panjang tersebut berakhir dengan pertemuan emosional bersama istrinya. Tamang mengatakan istrinya menangis ketika mereka akhirnya bertemu kembali.
Meski selamat secara fisik, pengalaman di dalam terowongan masih meninggalkan trauma. Tamang mengaku kerap mengalami mimpi buruk tentang kejadian tersebut, termasuk gambaran kondisi terowongan dan para pekerja yang meninggal.
Pengalaman menghadapi banjir bandang Nepal itu akhirnya mengubah keputusan Tamang mengenai pekerjaannya. Setelah berhasil lolos dari maut, ia menegaskan tidak ingin kembali bekerja di dalam terowongan PLTA karena tidak ingin mempertaruhkan keselamatannya untuk kedua kali.