Industri otomotif – akan terus menghadapi tekanan berat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ekonomi global dan domestik menekan daya beli masyarakat. Situasi ini mendorong pelaku industri untuk mencari solusi yang berkelanjutan. Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, menegaskan bahwa industri otomotif membutuhkan stimulus jangka panjang. Ia menilai insentif sementara tidak mampu menciptakan pemulihan ekonomi yang stabil.
Menurut Bob, pemerintah perlu menyusun kebijakan yang memiliki daya ungkit ekonomi. Kebijakan tersebut harus mendorong pertumbuhan secara konsisten. Insentif yang hanya berlaku sesaat tidak memberikan dampak luas. Setelah masyarakat menggunakan insentif tersebut, efek ekonomi langsung menghilang. Oleh karena itu, industri membutuhkan stimulus yang mampu menciptakan efek berantai.

Pabrik Toyota di Karawang(Dok. TMMIN)
Tantangan Fiskal Menekan Ruang Gerak Kebijakan
Saat ini, kondisi fiskal nasional menghadapi tekanan serius. Pemerintah harus mengelola beban cicilan utang yang besar. Selain itu, penerimaan pajak mengalami penurunan signifikan. Angkanya bahkan mencapai sekitar 30 persen. Di sisi lain, defisit anggaran terus mendekati batas 3 persen. Situasi ini membuat ruang kebijakan fiskal semakin terbatas.
Dalam kondisi tersebut, Bob menilai pemerintah tidak dapat mengandalkan pola insentif lama. Ia menekankan bahwa industri tidak bisa berharap pada insentif yang cepat habis. Pola tersebut hanya menciptakan konsumsi sesaat. Setelah itu, aktivitas ekonomi kembali melambat. Oleh sebab itu, pemerintah perlu mengubah pendekatan stimulus agar lebih produktif.
Peran Kelas Menengah dalam Mendorong Konsumsi
Selain durasi stimulus, Bob juga menyoroti sasaran kebijakan. Ia menilai kelas menengah memiliki peran penting dalam pemulihan ekonomi. Konsumsi dari kelompok ini mampu menciptakan efek ganda yang besar. Ketika kelas menengah meningkatkan belanja, sektor lain ikut bergerak. Industri manufaktur, jasa, hingga tenaga kerja mendapatkan manfaat langsung.
Sebaliknya, kebijakan yang hanya menyasar kelas bawah sering kali menghasilkan konsumsi sekali pakai. Bantuan sosial memang membantu masyarakat rentan. Namun, konsumsi tersebut tidak berlanjut. Setelah dana habis, perputaran ekonomi berhenti. Oleh karena itu, Bob mendorong pemerintah untuk menyeimbangkan kebijakan.
Ia menilai insentif untuk kelas menengah memang kurang populer. Namun, kebijakan tersebut justru memiliki dampak ekonomi yang lebih luas. Dengan daya beli yang lebih stabil, kelas menengah mampu menciptakan multiplier effect yang berkelanjutan.
Pembelajaran dari Kebijakan Negara Lain
Bob juga mengangkat contoh kebijakan dari negara lain. Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara telah menerapkan stimulus otomotif yang lebih terarah. Vietnam, misalnya, menurunkan pajak kendaraan untuk menjaga permintaan pasar. Kebijakan ini mendorong masyarakat tetap membeli kendaraan meski kondisi ekonomi menantang.
Sementara itu, Malaysia menerapkan stimulus khusus bagi pembeli mobil pertama. Kebijakan ini menyasar masyarakat yang berada pada fase awal kehidupan produktif. Mereka membutuhkan kendaraan untuk menunjang aktivitas kerja dan keluarga. Pemerintah Malaysia tidak menganggap kendaraan pertama sebagai barang mewah. Dengan pendekatan tersebut, pasar otomotif tetap bergerak.
Bob menilai pendekatan ini relevan untuk Indonesia. Ia menegaskan bahwa kendaraan pertama memiliki fungsi produktif. Kendaraan tersebut mendukung mobilitas dan efisiensi kerja. Oleh karena itu, stimulus untuk pembeli pertama dapat mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa membebani fiskal secara berlebihan.
Strategi Stimulus untuk Keberlanjutan Industri
Ke depan, industri otomotif membutuhkan kebijakan yang konsisten dan terukur. Pemerintah perlu merancang stimulus yang mampu bertahan dalam jangka panjang. Selain itu, kebijakan harus mendorong peningkatan produktivitas nasional. Dengan demikian, industri tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.
Bob berharap pemerintah dan pelaku industri dapat terus berdialog. Kolaborasi ini penting untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran. Stimulus yang kuat akan mempercepat pemulihan ekonomi. Lebih dari itu, kebijakan tersebut akan memperkuat fondasi industri otomotif nasional.
Pada akhirnya, stimulus jangka panjang bukan sekadar insentif. Stimulus tersebut harus menjadi alat transformasi ekonomi. Dengan strategi yang tepat, industri otomotif dapat kembali menjadi penggerak utama pertumbuhan nasional.