Kasus superflu – atau influenza tipe A H3N2 subclade K kembali menarik perhatian publik. Perhatian ini muncul setelah seorang pasien lanjut usia meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Pasien tersebut mengalami influenza bersamaan dengan beberapa penyakit penyerta. Kondisi itu meliputi stroke, gagal jantung, dan gangguan ginjal.
Peristiwa ini mendorong masyarakat untuk memahami risiko superflu secara lebih serius. Terlebih lagi, infeksi virus ini menyasar kelompok dengan daya tahan tubuh rendah. Oleh karena itu, pemahaman tentang peran komorbid menjadi sangat penting. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan lebih awal.

Ilustrasi superflu. Warga Depok diminta tidak panik dan tetap meningkatkan kewaspadaan.(Freepik)
Peran Komorbid dalam Memperparah Infeksi Superflu
Komorbid berperan besar dalam memperberat infeksi superflu. Prof. Dr. dr. Tonang Dwi Ardyanto menjelaskan hal tersebut dari sudut pandang medis. Ia menegaskan bahwa penyakit penyerta meningkatkan risiko komplikasi influenza. Risiko ini meningkat secara signifikan pada kelompok tertentu.
Secara umum, tenaga medis membagi komorbid ke dalam tiga kelompok utama. Kelompok tersebut mencakup faktor usia, penyakit kronis, dan kondisi khusus. Setiap kelompok memiliki kontribusi risiko yang berbeda. Namun, semuanya mempercepat penurunan kondisi pasien saat infeksi menyerang.
Risiko Superflu pada Kelompok Usia Lanjut dan Penyakit Kronis
Pertama, faktor usia memainkan peran dominan. Individu berusia di atas 65 tahun memiliki risiko tinggi. Data medis menunjukkan peningkatan risiko flu berat hingga 70 sampai 80 persen. Risiko ini meningkat tajam ketika penyakit kronis ikut hadir.
Selain itu, penyakit seperti asma, diabetes, stroke, gangguan ginjal, dan penyakit jantung memperburuk kondisi. Kombinasi tersebut membuat tubuh sulit melawan virus. Laporan kesehatan tahun 2020 mencatat fakta penting. Satu dari delapan pasien flu yang menjalani perawatan inap mengalami gangguan jantung.
Selanjutnya, anak-anak juga menghadapi risiko serupa. Laporan tahun 2022 menunjukkan pola yang jelas. Anak dengan asma menempati posisi teratas kelompok berisiko. Dermatitis atopik dan gangguan metabolik endokrin mengikuti setelahnya. Anak dengan gangguan metabolik memiliki risiko delapan kali lebih besar untuk menjalani rawat inap. Risiko ini meningkat pada anak berusia di bawah dua tahun.
Kondisi Khusus yang Memperparah Dampak Superflu
Selain usia dan penyakit kronis, kondisi khusus juga memperberat infeksi. Kehamilan termasuk salah satu kondisi tersebut. Obesitas juga memberikan tekanan tambahan pada sistem imun. Penurunan fungsi imun mempercepat penyebaran virus dalam tubuh.
Lebih jauh lagi, lingkungan ikut memengaruhi daya tahan tubuh. Udara kotor menurunkan kualitas kesehatan pernapasan. Sanitasi buruk meningkatkan risiko infeksi berulang. Kelembapan tinggi juga menciptakan kondisi ideal bagi virus. Faktor lingkungan ini mempercepat keparahan superflu pada individu rentan.
Daya Tular Superflu yang Lebih Cepat
Superflu H3N2 subclade K memiliki karakteristik utama yang perlu perhatian khusus. Virus ini menyebar lebih cepat dibandingkan flu musiman biasa. Kecepatan penularan ini menambah risiko bagi kelompok komorbid. Ketika infeksi terjadi, tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi.
Akibatnya, pasien dengan penyakit penyerta mengalami penurunan kondisi secara cepat. Faktor ini menjelaskan mengapa pengawasan medis perlu dilakukan sejak awal. Pencegahan menjadi langkah paling rasional dalam situasi ini.
Alasan Komorbid Memperparah Superflu
Untuk memudahkan pemahaman, Prof. Tonang memberikan analogi sederhana. Ia membandingkan infeksi virus dengan titik api pada sebatang kayu. Dalam kondisi normal, api tersebut masih dapat terkendali. Namun, komorbid berperan seperti siraman minyak.
Ketika minyak mengenai kayu, api akan membesar dengan cepat. Semakin banyak minyak, semakin besar kobaran api. Begitu pula dengan superflu. Semakin banyak komorbid, semakin tinggi risiko komplikasi. Tubuh kehilangan kemampuan untuk mengendalikan infeksi.
Oleh sebab itu, individu dengan penyakit penyerta perlu meningkatkan kewaspadaan. Langkah pencegahan sederhana dapat memberikan dampak besar. Konsultasi medis rutin menjadi langkah awal yang bijak. Dengan demikian, risiko superflu dapat ditekan secara signifikan.