AI Smart Glasses – mengubah arah strategi bisnisnya setelah proyek metaverse belum menunjukkan hasil optimal. Perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp tersebut kini memusatkan perhatian pada pengembangan kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI smart glasses). Melalui perangkat wearable, Meta ingin menghadirkan pengalaman teknologi yang lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari pengguna.
Dalam paparan kinerja keuangan kuartal IV 2025 pada akhir Januari 2026, CEO Mark Zuckerberg menegaskan arah baru tersebut. Ia menilai AI smart glasses memiliki potensi besar untuk membentuk ulang cara manusia berinteraksi dengan teknologi digital.
AI Smart Glasses Disebut Masuki Fase Awal Perubahan Besar
Menurut Zuckerberg, perkembangan AI smart glasses saat ini menyerupai masa awal kehadiran smartphone. Pada periode tersebut, ponsel layar sentuh mulai menggantikan feature phone secara perlahan. Dalam jangka panjang, perubahan itu kemudian mengubah standar penggunaan perangkat komunikasi.
Zuckerberg juga menyoroti kebiasaan global masyarakat. Saat ini, miliaran orang di dunia menggunakan kacamata atau lensa kontak setiap hari. Berdasarkan fakta tersebut, Meta melihat peluang besar untuk menjadikan kacamata sebagai platform teknologi berikutnya. Bahkan, ia memperkirakan sebagian besar kacamata di masa depan akan terintegrasi dengan AI.

CEO Meta, Mark Zuckerberg.
Data Penjualan Dorong Keyakinan Perusahaan
Optimisme Meta tidak hanya bertumpu pada visi jangka panjang. Data penjualan turut memperkuat keyakinan tersebut. Sepanjang satu tahun terakhir, penjualan kacamata pintar Meta Ray-Ban meningkat hingga tiga kali lipat.
Bagi Meta, pencapaian itu menunjukkan penerimaan pasar yang semakin luas. Perusahaan melihat kacamata pintar sebagai perangkat yang dapat digunakan sepanjang hari tanpa mengganggu kebiasaan pengguna. Faktor inilah yang membuat AI smart glasses lebih mudah diterima dibandingkan headset realitas virtual.
Pengalaman Metaverse Mengubah Pendekatan Meta
Sebelumnya, Meta menempatkan metaverse sebagai masa depan utama interaksi sosial dan kerja digital. Namun, realisasi visi tersebut berjalan lebih lambat dari ekspektasi awal. Unit Reality Labs bahkan mencatat kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir.
Dari pengalaman tersebut, Meta menarik pelajaran penting. Kini, perusahaan memilih pendekatan yang lebih realistis dan berorientasi pada penggunaan sehari-hari. Fokus pun bergeser ke produk yang dapat langsung di gunakan tanpa memerlukan perubahan perilaku besar dari pengguna.
Perusahaan Teknologi Lain Ikut Masuki Segmen Ini
Langkah Meta sejalan dengan pergerakan industri teknologi global. Google tengah menyiapkan kacamata pintar berbasis AI dengan integrasi Gemini AI, kamera, dan mikrofon. Perusahaan tersebut juga menjalin kerja sama dengan Warby Parker untuk pengembangan produknya.
Sementara itu, Apple mulai mengalihkan sebagian sumber daya dari proyek Vision Pro. Apple menargetkan pengembangan smart glasses dalam satu hingga dua tahun ke depan. Arah ini menunjukkan minat Apple pada perangkat wearable yang lebih ringan dan praktis.
Di sisi lain, Snap memisahkan bisnis kacamata AR mereka, Specs, ke dalam entitas tersendiri. Dengan langkah tersebut, Snap berharap dapat meningkatkan fokus pengembangan produk. Selain itu, OpenAI juga mengeksplorasi perangkat AI wearable, meskipun tidak secara langsung mengarah ke kacamata.
Meta Tetap Unggul dalam Pengembangan Smart Glasses
Hingga saat ini, Meta masih memimpin pasar AI smart glasses. Sejak 2021, perusahaan yang berbasis di Menlo Park telah merilis beberapa model kacamata pintar. Untuk menghadirkan desain yang familiar, Meta menggandeng Ray-Ban dan Oakley.
Ke depan, Meta menargetkan kacamata pintar sebagai asisten yang aktif sepanjang hari. Perangkat ini tidak hanya berfungsi sebagai kamera atau asisten suara. AI di dalamnya akan memahami konteks visual dan audio di sekitar pengguna, lalu memberikan bantuan secara real time.
Ray-Ban Display Hadirkan Layar Terintegrasi
Sebagai pengembangan terbaru, Meta memperkenalkan Ray-Ban Display. Produk ini menjadi kacamata pintar pertama Meta yang di lengkapi layar terintegrasi. Model sebelumnya hanya menggunakan lensa standar tanpa layar.
Melalui layar mini tersebut, pengguna dapat melihat video, membaca informasi, serta membalas pesan teks. Sistem akan mematikan layar secara otomatis ketika tidak di gunakan, sehingga pandangan tetap nyaman. Untuk navigasi, Meta menyediakan Meta Neural Band yang menggunakan teknologi elektromiografi (EMG) guna membaca sinyal saraf dari gerakan tangan pengguna.
Penutup
Perubahan fokus Meta ke AI smart glasses menandai langkah strategis baru dalam pengembangan produk konsumen. Dengan menggabungkan kecerdasan buatan, teknologi wearable, dan desain yang akrab, Meta membuka peluang terciptanya platform interaksi digital yang lebih personal. Di tengah meningkatnya minat industri, AI smart glasses berpotensi menjadi fase berikutnya dalam evolusi teknologi sehari-hari.