Tragedi kecelakaan pesawat – di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, meninggalkan duka mendalam bagi banyak pihak. Salah satu korban dalam peristiwa tersebut adalah Hariadi, seorang Flight Operation Officer (FOO) pesawat ATR 42 Seri 500. Kepergian Hariadi tidak hanya menyisakan kesedihan bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan kerja dan institusi yang pernah menjalankan tugas bersamanya.

Selama hidupnya, Hariadi menunjukkan kepribadian yang hangat dan bersahaja. Banyak orang mengenalnya sebagai sosok yang ramah, mudah bergaul, dan selalu menjaga komunikasi dengan baik. Dalam setiap penugasan, ia menunjukkan komitmen tinggi terhadap tanggung jawab yang diembannya.

Rekan Kerja Mengenang Sikap Rendah Hati Hariadi

Dwi Santoso Wibowo, Kepala Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menyampaikan kesaksiannya tentang almarhum. Dwi mengaku sering bekerja bersama Hariadi dalam berbagai kegiatan patroli dan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan.

Menurut Dwi, Hariadi selalu bersikap terbuka dan mudah di ajak berdiskusi. Ia mampu membangun suasana kerja yang kondusif dan penuh rasa saling menghargai. Dalam setiap kesempatan bertugas, Hariadi aktif berkomunikasi dan tidak pernah menunjukkan sikap eksklusif meski memiliki peran penting dalam operasional penerbangan.

Dwi juga menilai Hariadi sebagai pribadi yang profesional sekaligus peduli terhadap sesama. Ia tidak hanya fokus pada tugas teknis, tetapi juga memperhatikan kenyamanan dan kekompakan tim selama berada di lapangan.

Suasana rumah duka kru pesawat ATR yang meninggal dunia dalam kecelakaan, keluarga dan pelayat larut dalam kesedihan

Jenazah Kru Pesawat ATR ttiba di rumah duka

Pertemuan Terakhir dan Janji yang Tak Terlaksana

Sebelum insiden kecelakaan terjadi, Hariadi sempat mengajak rekan-rekannya untuk makan malam bersama. Ajakan tersebut ia sampaikan pada Sabtu pagi, beberapa jam sebelum peristiwa nahas itu terjadi. Rencana sederhana itu kini berubah menjadi kenangan yang menyedihkan.

Dwi mengenang pertemuan terakhirnya dengan Hariadi yang berlangsung di Semarang pada hari Jumat. Saat itu, mereka masih menjalankan rangkaian tugas patroli seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa pertemuan tersebut menjadi yang terakhir.

Kenangan akan percakapan ringan dan rencana makan bersama itu kini melekat kuat di ingatan rekan-rekannya, sekaligus menambah rasa kehilangan yang mendalam.

Keluarga Sambut Jenazah dengan Tangis Haru

Duka mendalam menyelimuti rumah keluarga Hariadi saat jenazah tiba. Sang istri, Rira Indah Saparia, menyambut kepulangan suaminya dengan isak tangis yang tak tertahankan. Keluarga besar dan para pelayat turut merasakan kesedihan yang sama.

Pihak Direktorat Jenderal PSDKP menyerahkan jenazah secara resmi kepada keluarga. Setelah prosesi serah terima, keluarga menyemayamkan jenazah beberapa saat di rumah duka. Peti jenazah tampak tertutup kain hijau bertuliskan lafaz syahadat dan dihiasi rangkaian bunga sebagai simbol penghormatan terakhir.

Suasana haru menyelimuti rumah duka ketika doa-doa dipanjatkan untuk almarhum. Para pelayat terus berdatangan untuk memberikan dukungan moril kepada keluarga yang ditinggalkan.

Prosesi Pelepasan yang Menguras Emosi

Keluarga memulai prosesi pelepasan jenazah dengan sambutan dari perwakilan keluarga, pemerintah desa, serta Kepala Stasiun PSDKP Cilacap yang mewakili Kementerian Kelautan dan Perikanan. Setelah itu, mereka menggelar doa bersama sebelum membawa jenazah ke masjid untuk disalatkan.

Momen paling memilukan terjadi ketika keluarga mengangkat peti jenazah menuju mobil jenazah. Sang ibunda, Sutini, tak mampu menahan kesedihan dan menangis histeris hingga akhirnya pingsan. Kerabat segera memberikan pertolongan dan membawanya masuk ke dalam rumah.

Sang istri juga terlihat sangat terpukul. Ia terus menangis saat melepas kepergian suaminya menuju tempat peristirahatan terakhir di Kerjo, Kabupaten Karanganyar. Tangis duka turut terdengar dari para pelayat dan warga sekitar yang merasa kehilangan sosok baik dan rendah hati.

Keteladanan yang Akan Selalu Dikenang

Kepergian Hariadi meninggalkan duka yang mendalam, namun juga meninggalkan teladan tentang ketulusan, tanggung jawab, dan dedikasi. Keluarga, rekan kerja, dan semua pihak yang mengenalnya akan terus mengenang Hariadi sebagai pribadi yang mengabdikan diri sepenuh hati, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari-hari.