Tradisi Perahu – Masyarakat Kota Palembang mengenal tradisi perahu bidar sebagai seni dayung tradisional yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu. Tradisi ini tumbuh seiring dengan peran Sungai Musi yang menjadi pusat kehidupan masyarakat Palembang. Sungai tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial, ekonomi, dan budaya. Dari kondisi geografis inilah tradisi perahu bidar berkembang dan mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Hingga kini, masyarakat Palembang terus menjaga keberlangsungan tradisi perahu bidar melalui perlombaan tahunan. Biasanya, warga menyelenggarakan kegiatan ini untuk memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap bulan Agustus. Tradisi tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan kebanggaan terhadap warisan budaya daerah.
Sejarah Perahu Bidar dari Masa ke Masa
Sejarah mencatat bahwa masyarakat Palembang telah mengenal perahu bidar sejak era Kerajaan Sriwijaya. Pada masa itu, masyarakat menyebut perahu ini dengan nama “pelancang”. Perahu bidar kemudian tetap digunakan hingga masa Kesultanan Palembang Darussalam, khususnya pada pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I.
Pada akhir abad ke-19, tradisi perahu bidar mulai tampil dalam ruang publik yang lebih luas. Pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan perlombaan perahu bidar sebagai bagian dari perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina pada tahun 1898. Sejak saat itu, masyarakat semakin mengenal perahu bidar sebagai atraksi budaya sekaligus perlombaan tradisional yang menarik perhatian banyak orang.

Foto: Peserta perahu bidar mendayung perahu di sungai Musi.
Legenda Putri Dayang Merindu dalam Tradisi Perahu Bidar
Selain sejarah, masyarakat Palembang juga mewariskan cerita rakyat yang berkaitan erat dengan tradisi perahu bidar. Salah satu legenda yang paling populer adalah kisah Putri Dayang Merindu. Cerita ini mengisahkan dua pria yang memperebutkan cinta sang putri. Untuk menentukan pemenang, keduanya sepakat mengadu kecepatan mendayung perahu di sungai.
Sayangnya, perlombaan tersebut berakhir tragis. Kedua pria itu gagal mencapai garis akhir dan meninggal dunia setelah perahu mereka terbalik. Mendengar kabar tersebut, Putri Dayang Merindu merasa sangat terpukul hingga akhirnya mengakhiri hidupnya. Cerita ini berkembang secara turun-temurun dan menjadi bagian dari narasi budaya yang menyertai tradisi perahu bidar.
Selain legenda tersebut, masyarakat juga mengenal cerita mistis yang berkaitan dengan perlombaan perahu bidar. Pada masa lalu, sebagian pendayung percaya bahwa ritual tertentu di kawasan Prasasti Kedukan Bukit dapat membantu meraih kemenangan. Meski demikian, masyarakat modern tidak lagi mempraktikkan kepercayaan tersebut.
Nilai Spiritual dan Kebersamaan dalam Pelaksanaan Tradisi
Walaupun masyarakat telah meninggalkan unsur mistis, mereka tetap mempertahankan nilai spiritual dalam tradisi perahu bidar. Sebelum perlombaan dimulai, para pendayung dan panitia biasanya menggelar doa bersama. Melalui kegiatan ini, mereka memohon keselamatan dan kelancaran selama acara berlangsung.
Doa bersama juga memperkuat rasa persaudaraan antarpendayung. Mereka tidak hanya berkompetisi untuk menang, tetapi juga saling menghormati dan menjaga keselamatan satu sama lain. Nilai-nilai tersebut menjadikan tradisi perahu bidar sebagai kegiatan yang sarat makna sosial dan religius.
Fungsi Perahu Bidar pada Masa Kesultanan Palembang
Pada masa Kesultanan Palembang, masyarakat tidak hanya memanfaatkan perahu bidar untuk perlombaan. Mereka juga menggunakan perahu ini sebagai alat patroli sungai untuk menjaga keamanan wilayah perairan. Desain perahu yang panjang dan ramping memungkinkan perahu bergerak cepat mengikuti arus Sungai Musi.
Umumnya, perahu bidar memiliki panjang antara 10 hingga 20 meter dengan lebar sekitar 1,5 hingga 3 meter. Dalam satu perahu, puluhan pendayung bekerja sama mengayuh dayung secara serempak. Kapasitas perahu ini bahkan mampu menampung hingga 50 orang, sehingga masyarakat mengandalkannya untuk kegiatan strategis di perairan.
Pelestarian Tradisi Perahu Bidar di Era Modern
Saat ini, masyarakat Palembang terus melestarikan tradisi perahu bidar melalui penyelenggaraan rutin setiap tahun. Warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Musi aktif menyiapkan generasi muda agar mampu meneruskan tradisi tersebut. Salah satu wilayah yang dikenal sebagai pusat pendayung perahu bidar adalah Kampung Keramasan di kawasan ulu Palembang, tepatnya di Kecamatan Kertapati.
Di wilayah ini, keluarga menurunkan keterampilan mendayung dari generasi ke generasi. Para orang tua melatih anak-anak mereka sejak usia dini agar mampu menguasai teknik dayung dan kerja sama tim. Melalui proses tersebut, tradisi perahu bidar tetap bertahan sebagai simbol sejarah, kekuatan kolektif, dan identitas budaya masyarakat Palembang.