PB Djarumpembinaan atlet berprestasi tidak hanya menuntut kemampuan teknis dan fisik yang mumpuni. Klub juga perlu membentuk karakter yang kuat agar atlet mampu menghadapi tekanan popularitas. Di dunia olahraga modern, prestasi sering kali membawa sorotan publik yang besar. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memicu star syndrome pada atlet muda.

Sebagai salah satu klub bulu tangkis terbesar di Indonesia, PB Djarum secara konsisten melahirkan atlet-atlet berprestasi. Seiring meningkatnya prestasi, para atlet binaan PB Djarum juga semakin dikenal luas. Popularitas tersebut mendorong klub untuk menerapkan strategi pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada gelar juara, tetapi juga pada sikap dan kepribadian atlet.

Star Syndrome Menjadi Tantangan Atlet Muda Berprestasi

Prestasi yang tinggi biasanya meningkatkan rasa percaya diri atlet. Dalam banyak kasus, kepercayaan diri menjadi modal penting untuk tampil kompetitif. Namun, ketika rasa percaya diri berubah menjadi sikap merasa paling unggul, atlet berisiko kehilangan keseimbangan emosional dan profesional.

Manajer PB Djarum, Fung Permadi, menjelaskan bahwa klub menyadari potensi munculnya star syndrome pada atlet yang mulai dikenal publik. Ia menilai bahwa peningkatan prestasi sering berjalan seiring dengan naiknya harga diri atlet. Oleh karena itu, klub perlu mengarahkan kondisi tersebut agar tetap berada dalam batas yang sehat.

Fung menegaskan bahwa meminta atlet berprestasi untuk tetap rendah hati bukan perkara mudah. Atlet terbiasa mendapat pengakuan, pujian, dan ekspektasi tinggi. Meski begitu, klub terus mendorong atlet untuk mengembangkan empati dan kesadaran sosial sebagai bagian dari proses pembinaan.

PB Djarum membina karakter atlet agar terhindar dari star syndrome

Bakti Olahraga Djarum Foundation memberikan apresiasi kepada atlet PB Djarum atas torehan prestasi yang diraih sepanjang tahun 2025.

PB Djarum Bentuk Karakter Atlet Sejak Usia Dini

PB Djarum memilih membina atlet sejak usia muda sebagai langkah strategis. Klub percaya bahwa pembentukan karakter akan lebih efektif jika dimulai sejak awal. Dengan pendekatan ini, atlet memahami sejak dini bagaimana bersikap sebagai calon juara.

Fung Permadi menekankan bahwa karakter dasar atlet memegang peran penting dalam keberhasilan jangka panjang. Atlet yang memiliki sikap baik akan lebih mudah menyesuaikan diri ketika meraih prestasi tinggi. Oleh sebab itu, PB Djarum tidak hanya fokus pada kemampuan bermain, tetapi juga pada pembentukan mental dan etika.

Melalui proses pembinaan berjenjang, klub mengajarkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan rasa hormat. Para pelatih dan manajemen secara aktif memberikan contoh sikap profesional dalam keseharian. Dengan cara ini, atlet belajar bahwa kesuksesan bukan hanya soal menang, tetapi juga tentang menjaga sikap.

Apresiasi Prestasi sebagai Sarana Edukasi Mental

Selain membina karakter, PB Djarum juga rutin memberikan apresiasi kepada atlet berprestasi. Klub menggunakan penghargaan sebagai sarana motivasi positif, bukan sebagai alat untuk membangun ego berlebihan. Setiap apresiasi di sertai pesan agar atlet tetap fokus pada proses dan pengembangan diri.

Pada tahun 2025, PB Djarum memberikan penghargaan kepada sejumlah atlet muda yang mencatatkan prestasi gemilang. Klub mengapresiasi atlet yang meraih gelar juara Kejuaraan Nasional PBSI 2025 di nomor tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran. Selain itu, klub juga memberi penghargaan kepada atlet yang berhasil menembus peringkat 15 dan 39 dunia versi BWF per 31 Desember 2025.

PB Djarum juga memberikan apresiasi kepada 47 atlet berprestasi kelompok usia U-17 dan U-19 sepanjang tahun tersebut. Klub menetapkan Salsabila Zahra Aulia sebagai Atlet Muda PB Djarum Berprestasi Terbaik 2025 atas konsistensi dan pencapaiannya.

Menjaga Keseimbangan antara Prestasi dan Kerendahan Hati

PB Djarum menanamkan pemahaman bahwa prestasi bukan tujuan akhir. Klub mendorong atlet untuk memandang keberhasilan sebagai hasil kerja keras dan proses panjang. Dengan cara ini, atlet dapat menjaga motivasi tanpa kehilangan sikap rendah hati.

Pendekatan ini membantu atlet menghadapi sorotan publik dengan lebih matang. Atlet yang mampu mengelola popularitas akan lebih siap menghadapi tekanan di level nasional maupun internasional. Selain itu, sikap profesional juga membuka peluang karier yang lebih berkelanjutan.

PB Djarum menunjukkan bahwa pembinaan atlet tidak hanya berfokus pada prestasi di lapangan. Klub secara aktif membangun karakter atlet untuk mencegah star syndrome sejak usia dini. Melalui pembinaan berkelanjutan dan apresiasi yang terarah, PB Djarum mencetak atlet yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter kuat.

Pendekatan ini menjadi fondasi penting bagi keberhasilan jangka panjang atlet dan dunia bulu tangkis Indonesia. Dengan keseimbangan antara prestasi dan sikap, atlet mampu berkembang sebagai juara sejati di dalam maupun di luar lapangan.