Pascabencana – Pemerintah terus mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Sumatera yang terdampak bencana. Fokus utama pemerintah adalah memindahkan para pengungsi dari tenda darurat ke tempat tinggal yang lebih layak.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang memimpin Satgas Penanganan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera menegaskan bahwa relokasi pengungsi menjadi prioritas utama. Ia menyampaikan hal tersebut dalam rapat koordinasi tingkat menteri di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di Jakarta.
Pemerintah menargetkan proses relokasi selesai sebelum Hari Raya Idul Fitri. Dengan target tersebut, para pengungsi di harapkan tidak lagi tinggal di tenda darurat. Mereka dapat menempati hunian sementara atau menerima dana tunggu hunian.
Langkah ini menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pascabencana. Pemerintah ingin memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan yang lebih aman dan nyaman.
Jumlah Pengungsi Terus Menurun
Upaya percepatan penanganan di lapangan mulai menunjukkan hasil positif. Jumlah pengungsi di wilayah terdampak bencana terus menurun dalam beberapa pekan terakhir.
Data dari Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera mencatat jumlah pengungsi mencapai 12.994 jiwa pada awal Ramadan. Sebagian besar pengungsi berasal dari Provinsi Aceh dengan jumlah sekitar 12.144 jiwa. Sementara itu, Sumatera Utara mencatat sekitar 850 jiwa pengungsi.
Pada periode yang sama, Sumatera Barat sudah tidak memiliki pengungsi di tenda darurat. Kondisi ini menunjukkan proses relokasi di wilayah tersebut berjalan lebih cepat.
Data terbaru pada awal Maret 2026 menunjukkan jumlah pengungsi tersisa 6.873 jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 6.187 jiwa berada di Aceh dan 686 jiwa berada di Sumatera Utara.
Dalam waktu kurang dari dua minggu, jumlah pengungsi berkurang sebanyak 6.121 jiwa. Penurunan ini setara dengan sekitar 47 persen dari jumlah awal Ramadan.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa program relokasi dan bantuan pemerintah berjalan cukup efektif.

Untuk diketahui, sudah hampir tiga bulan berlalu sejak bencana melanda, namun pembangunan hunian sementara (Huntara) yang dijanjikan bagi para penyintas belum juga rampung. Tampak dalam foto, para pengungsi memasak makanan untuk berbuka puasa Ramadan di tenda yang menampung para korban banjir di Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada 21 Februari 2026, setelah banjir dan tanah longsor dahsyat melanda Sumatra, akhir November 2025 lalu.
Pembangunan Hunian Sementara Terus Dipercepat
Penurunan jumlah pengungsi berkaitan dengan percepatan pembangunan hunian sementara atau huntara. Hunian ini memberikan tempat tinggal sementara bagi masyarakat yang kehilangan rumah akibat bencana.
Pemerintah melalui BNPB dan Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan pembangunan huntara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Total rencana pembangunan mencapai 18.309 unit hunian sementara. Hingga awal Maret 2026, pemerintah telah menyelesaikan sekitar 12.279 unit.
Jumlah tersebut mencapai sekitar 67 persen dari total target pembangunan. Hunian sementara membantu para pengungsi mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak dibandingkan tenda darurat.
Hunian ini juga memberikan waktu bagi pemerintah untuk menyelesaikan pembangunan rumah permanen.
Pembangunan Hunian Tetap Mulai Berjalan
Selain membangun hunian sementara, pemerintah juga menyiapkan hunian tetap bagi masyarakat terdampak bencana. Program ini menjadi solusi jangka panjang bagi para korban.
Pemerintah menargetkan pembangunan 36.669 unit hunian tetap di tiga provinsi terdampak. Program ini membutuhkan waktu lebih lama karena melibatkan pembangunan rumah permanen dan infrastruktur pendukung.
Saat ini sekitar 1.363 unit hunian tetap berada dalam tahap pembangunan. Beberapa rumah permanen juga telah selesai dan siap ditempati.
Pembangunan hunian tetap diharapkan dapat memberikan tempat tinggal yang aman bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Bantuan Sosial untuk Korban Bencana
Selain menyediakan tempat tinggal, pemerintah juga menyalurkan bantuan keuangan bagi masyarakat terdampak bencana.
Program Dana Tunggu Hunian membantu masyarakat yang masih menunggu pembangunan rumah permanen. Bantuan ini memungkinkan mereka menyewa tempat tinggal sementara.
Pemerintah telah menyalurkan dana tersebut kepada 10.783 penerima di tiga provinsi terdampak. Seluruh penerima sudah menerima dana melalui rekening masing-masing.
Kementerian Sosial juga menyalurkan bantuan jaminan hidup bagi masyarakat terdampak bencana. Program ini menyasar sekitar 175.211 jiwa atau lebih dari 47 ribu kepala keluarga.
Total anggaran untuk bantuan jaminan hidup mencapai sekitar Rp236 miliar.
Komitmen Pemerintah dalam Pemulihan Pascabencana
Berbagai program yang di jalankan menunjukkan komitmen pemerintah untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana di Sumatera.
Pemerintah menjalankan relokasi pengungsi, pembangunan hunian sementara, pembangunan hunian tetap, serta penyaluran bantuan sosial secara bersamaan.
Program tersebut tidak hanya memperbaiki kondisi tempat tinggal masyarakat. Program ini juga membantu memulihkan kondisi sosial dan ekonomi warga terdampak.
Melalui kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai lembaga terkait, proses rehabilitasi di harapkan berjalan lebih cepat.
Upaya ini di harapkan membantu masyarakat terdampak bencana kembali menjalani kehidupan yang lebih stabil dan aman.