Pertemuan Budaya – suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti kediaman pelukis senior Bali, Wayan Beratha Yasa, di Banjar Langon, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, pada Minggu, 1 Maret 2026. Sekitar pukul 13.40 WITA, rombongan yang dipimpin Ketua Media Cakra Yudha Hankam Kaperwil Bali, Jero Wayan Sudarsana, tiba untuk menggelar agenda bertajuk “Temu Wirasa”. Melalui forum ini, para peserta secara langsung membahas keberlanjutan seni lukis tradisi Bali di tengah perubahan zaman.
Dalam pertemuan tersebut, Jero Wayan Sudarsana hadir bersama Rachmat Fathoni, Putu Pariawan, dan Alek Suharno. Mereka berdiskusi secara aktif dengan Wayan Beratha Yasa tentang tantangan, peluang, serta strategi pelestarian seni tradisi. Dengan demikian, dialog tidak hanya membahas estetika karya, tetapi juga menyentuh aspek identitas budaya dan peran seniman dalam masyarakat.
Karya Mitologi dan Kritik Sosial sebagai Refleksi Zaman
Pada kesempatan itu, Wayan Beratha Yasa menampilkan sejumlah karya monumental yang sarat filosofi. Salah satunya berjudul Kala Rauh, yang mengangkat kisah pencarian Tirta Amertha dalam mitologi Hindu. Dalam lukisan tersebut, ia menggambarkan momen ketika Kala Rauh meminum air suci keabadian, namun para dewa segera menghentikan upaya itu dengan memanah lehernya. Melalui adegan dramatis tersebut, ia menegaskan nilai keseimbangan kosmis antara ambisi dan hukum ilahi.
Selain itu, ia juga memperlihatkan karya Cangak Meketu yang menghadirkan sindiran sosial. Dalam lukisan ini, seekor burung bangau mengenakan kethu atau mahkota pendeta. Ia menggunakan simbol tersebut untuk mengkritik perilaku individu yang menyalahgunakan atribut kesucian demi kepentingan pribadi. Oleh karena itu, karya ini tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang kuat.
Melalui kedua karya tersebut, Wayan Beratha Yasa secara konsisten memadukan mitologi dan kritik sosial. Ia memanfaatkan bahasa visual tradisi untuk menyuarakan refleksi terhadap realitas kontemporer.

Pelukis Wayan Beratha Yasa dengan karya lukisannya gaya Kamasan Bali etnik di dampingi Jero Wayan Sudarsana
Konsistensi pada Tradisi Lukisan Kamasan
Lebih lanjut, Wayan Beratha Yasa menegaskan bahwa ia berakar kuat pada tradisi Lukisan Kamasan dari Klungkung. Ia memilih mempertahankan pendekatan satu dimensi yang menjadi ciri khas tradisi tersebut. Meskipun sejumlah seniman Bali mengembangkan gaya realisme dua dimensi di Ubud, ia tetap menjaga pakem klasik sebagai identitas utama.
Namun demikian, ia tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman. Ia memanfaatkan konteks kekinian sebagai inspirasi, tetapi tetap menjaga struktur visual tradisional. Dengan cara ini, ia membuktikan bahwa seniman dapat berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya.
Pendekatan tersebut memperlihatkan komitmen kuat terhadap pelestarian warisan visual Bali. Ia tidak sekadar melestarikan bentuk, tetapi juga menjaga nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Diplomasi Budaya dan Rencana Penyerahan Karya
Selain membahas estetika, para peserta juga mendiskusikan upaya memperluas jejaring budaya. Mereka menyadari bahwa seniman tradisi sering menghadapi kendala pendanaan ketika ingin memamerkan karya di tingkat nasional maupun internasional. Oleh karena itu, mereka menyusun langkah konkret untuk memperluas jangkauan apresiasi.
Dalam pertemuan tersebut, rombongan merencanakan penyerahan salah satu karya Wayan Beratha Yasa kepada Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat. Jero Wayan Sudarsana akan memfasilitasi agenda tersebut dan Putu Pariawan akan mendampinginya dalam kegiatan kebudayaan di Bandung. Melalui langkah ini, mereka ingin membangun jembatan persaudaraan antara budaya Bali dan Sunda.
Dengan demikian, seni lukis tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai sarana diplomasi budaya. Para peserta memandang karya seni sebagai media komunikasi yang efektif untuk mempererat hubungan antar daerah.
Meneguhkan Peran Seniman Tradisi
Secara keseluruhan, Temu Wirasa menghadirkan refleksi penting tentang posisi seni tradisi di tengah modernitas. Wayan Beratha Yasa menunjukkan bahwa ia mampu menjaga integritas karya sambil tetap relevan dengan perkembangan zaman. Ia terus menggoreskan nilai mitologi dan kritik sosial di atas kanvas dengan konsistensi dan keberanian.
Melalui dialog, kolaborasi, dan rencana diplomasi budaya, para peserta memperlihatkan komitmen nyata untuk menjaga eksistensi seni lukis tradisi Bali. Oleh sebab itu, pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat peran seni dalam membangun identitas dan persaudaraan budaya.