Holding BUMN – sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia atau InJourney, terus memperkuat perannya dalam pengembangan pariwisata nasional berbasis budaya dan sejarah. Sejalan dengan itu, perusahaan ini tengah mempersiapkan peluncuran hasil transformasi Grand Hotel De Djokja, sebuah hotel bersejarah yang berlokasi di kawasan Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Transformasi tersebut menjadi langkah strategis karena tidak hanya menyasar peningkatan kualitas akomodasi, tetapi juga menempatkan hotel sebagai medium pelestarian sejarah. Dengan demikian, Grand Hotel De Djokja di harapkan mampu berfungsi sebagai ruang hidup kebudayaan yang tetap relevan bagi generasi masa kini.

Direktur Utama InJourney Maya Watono (kanan) dalam Press Conference bertajuk “4 Tahun InJourney: Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia” yang digelar di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Nilai Historis Grand Hotel De Djokja dalam Konteks Kebangsaan
Grand Hotel De Djokja telah berdiri sejak tahun 1911 dan menyimpan nilai sejarah yang sangat kuat. Oleh sebab itu, keberadaannya tidak dapat di pisahkan dari perjalanan sosial dan politik bangsa Indonesia. Dalam berbagai catatan sejarah, bangunan ini pernah memainkan peran penting pada masa perjuangan kemerdekaan.
Lebih lanjut, hotel ini di ketahui pernah di gunakan oleh Jenderal Sudirman sebagai markas dalam periode perjuangan. Dengan latar belakang tersebut, InJourney menilai bahwa transformasi hotel tidak dapat dilakukan secara sembarangan, melainkan harus mengedepankan prinsip pelestarian dan kehati-hatian.
Pendekatan Transformasi Hotel Heritage yang Autentik
Dalam proses revitalisasi, InJourney mengusung konsep hotel heritage yang berfokus pada keaslian dan kekuatan narasi sejarah. Selain menjaga struktur arsitektur, perusahaan juga menata ulang interior agar selaras dengan nuansa awal abad ke-20.
Pendekatan ini bertujuan menghadirkan pengalaman menginap yang tidak hanya nyaman, namun juga edukatif. Dengan kata lain, wisatawan tidak sekadar menginap, tetapi turut memahami perjalanan sejarah yang melekat pada bangunan tersebut. Konsep ini menempatkan Grand Hotel De Djokja sebagai bagian dari praktik heritage tourism yang semakin relevan di tingkat global.
Tahapan Peluncuran dan Strategi Operasional Awal
InJourney merencanakan pelaksanaan soft launch Grand Hotel De Djokja pada periode Lebaran 2026 yang di perkirakan berlangsung pada Maret. Pada tahap awal ini, pengelola akan memperkenalkan hotel secara terbatas kepada publik sambil melakukan penyempurnaan layanan.
Selanjutnya, peluncuran penuh akan di lakukan setelah evaluasi operasional berjalan optimal. Oleh karena itu, tahapan ini menjadi penting untuk memastikan kualitas layanan sejalan dengan nilai historis yang di usung. Pada akhirnya, Grand Hotel De Djokja di harapkan tampil sebagai ikon wisata heritage baru di Yogyakarta.
Integrasi Transformasi Hotel dan Ekosistem Pariwisata
Transformasi Grand Hotel De Djokja tidak berdiri sendiri. Sebaliknya, langkah ini menjadi bagian dari strategi besar InJourney dalam membangun ekosistem pariwisata nasional yang terintegrasi. Selain hotel, InJourney juga mengembangkan infrastruktur pendukung, khususnya di sektor aviasi.
Pendekatan ini bertujuan menciptakan pengalaman perjalanan yang utuh, mulai dari kedatangan wisatawan di bandara hingga pengalaman menginap dan berwisata. Dengan demikian, pariwisata Indonesia dapat menghadirkan identitas budaya secara konsisten di setiap titik layanan.
Agenda Transformasi Bandara Berbasis Budaya dan Alam
Sejalan dengan pengembangan hotel heritage, InJourney juga merancang transformasi terhadap lima bandara besar di Indonesia. Beberapa di antaranya mencakup Bandara Internasional Juanda dan Bandara Kualanamu.
Transformasi bandara tidak hanya menyentuh aspek fisik bangunan. Di sisi lain, InJourney juga menekankan penguatan sumber daya manusia melalui konsep people transformation. Dengan pendekatan ini, petugas bandara diharapkan mampu menjadi duta budaya yang memberikan kesan positif kepada wisatawan.
Strategi Jangka Panjang Pariwisata Berkelanjutan
Melalui peluncuran Grand Hotel De Djokja dan transformasi bandara, InJourney menegaskan komitmennya terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan. Oleh karena itu, setiap program dirancang agar mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial, dan budaya.
Pada akhirnya, strategi ini menunjukkan bahwa modernisasi pariwisata tidak harus mengorbankan nilai sejarah. Sebaliknya, pelestarian budaya justru dapat menjadi fondasi utama dalam meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat nasional maupun global.