Indonesia – Sebanyak 290 atlet Indonesia memulai tahap awal adaptasi fisik setelah tiba di Nakhon Ratchasima, Thailand, pada pertengahan Januari 2026. Kehadiran para atlet tersebut menandai dimulainya persiapan intensif Indonesia dalam menghadapi ajang olahraga disabilitas terbesar di kawasan Asia Tenggara, yakni ASEAN Para Games.
Setibanya di Thailand, kontingen Indonesia langsung menjalani agenda pemulihan dan latihan ringan. Meski menempuh perjalanan panjang dari Tanah Air, para atlet tetap menunjukkan semangat tinggi untuk segera kembali berlatih. Fokus utama pada tahap awal ini adalah menjaga kondisi fisik agar tetap stabil sekaligus membantu tubuh beradaptasi dengan lingkungan baru.

Sejumlah atlet wheelchair basketball National Paralympic Committee (NPC) Indonesia melakukan pemanasan saat sesi latihan untuk ASEAN Para Games 2025 di Hotel Center Point, Terminal 21, Nakhon Rachatsima, Thailand, Jumat, 16 Januari 2026 (Foto: NPC Indonesia/Agoes Rudianto)
Perjalanan Panjang dan Tahap Pemulihan Atlet
Rombongan besar tim Indonesia mendarat di Bandar Udara Suvarnabhumi, Bangkok, melalui dua gelombang penerbangan. Setelah itu, seluruh kontingen melanjutkan perjalanan darat menuju Nakhon Ratchasima dengan waktu tempuh sekitar empat jam menggunakan bus.
Perjalanan tersebut tentu menguras energi para atlet. Namun, tim pelatih menyusun program pemulihan yang terukur agar kelelahan tidak mengganggu kesiapan bertanding. Para atlet menjalani latihan ringan berupa peregangan, jogging singkat, dan latihan mobilitas otot. Pendekatan ini bertujuan menjaga fleksibilitas tubuh sekaligus mencegah risiko cedera.
Fokus Tim Sepak Bola Cerebral Palsy
Cabang olahraga sepak bola Cerebral Palsy (CP) menjadi salah satu tim yang lebih awal memulai sesi latihan di arena. Tim pelatih mengarahkan latihan pada tahap conditioning untuk memulihkan stamina pemain. Pendekatan ini membantu pemain kembali ke ritme permainan setelah perjalanan panjang.
Pelatih tim sepak bola CP, Yanuar Dhuma Ardhiyanto, menjelaskan bahwa fokus awal latihan adalah menjaga kebugaran dasar. Menurutnya, kondisi fisik pemain berada pada tahap yang baik dan hanya membutuhkan peningkatan kecil untuk mencapai performa puncak. Setelah fase tersebut selesai, tim akan mengalihkan perhatian ke penguatan aspek taktik.
Selain itu, tim pelatih memastikan seluruh pemain berada dalam kondisi sehat. Tidak ada laporan cedera yang menghambat program latihan. Dengan kondisi tersebut, tim dapat mempersiapkan komposisi skuad terbaik untuk menghadapi laga perdana.
Adaptasi Lapangan dan Antusiasme Pemain
Kapten tim sepak bola CP, Yahya Hernanda, menyampaikan bahwa pemain menjalani latihan dengan antusias tinggi. Salah satu menu latihan utama adalah passing jarak pendek untuk membantu adaptasi terhadap karakter lapangan. Permukaan rumput yang relatif tipis memengaruhi laju bola, sehingga pemain perlu menyesuaikan kontrol dan akurasi umpan.
Latihan adaptasi ini memiliki peran penting dalam meningkatkan kenyamanan bermain. Pemain memanfaatkan sesi tersebut untuk memahami pantulan bola serta kecepatan aliran permainan. Meski menghadapi tantangan teknis, tim tetap optimistis dapat menyesuaikan diri sebelum hari pertandingan.
Persiapan Tim Bola Basket Kursi Roda
Selain sepak bola CP, tim nasional bola basket kursi roda Indonesia juga memulai latihan di Thailand. Tim ini menjalani sesi latihan sore di area Center Point Hotel Terminal 21. Pelatih Salim Nurjadin memfokuskan latihan pada pemulihan kondisi fisik dan kesiapan mental atlet.
Program latihan dirancang bertahap. Pada fase awal, atlet menjalani latihan ringan untuk menjaga kebugaran. Selanjutnya, tim akan memasuki tahap penyesuaian lapangan dan proses klasifikasi sebelum turun pada nomor pertandingan. Tim dijadwalkan tampil pada nomor three on three dan five on five.
Pelatih menargetkan tim dapat tampil kompetitif dan memberikan performa terbaik. Meski persaingan di kawasan Asia Tenggara cukup ketat, tim Indonesia tetap memasang target realistis dan fokus pada peningkatan permainan internal.
Optimisme dan Mental Bertanding Atlet
Salah satu pemain tim bola basket kursi roda, Kasep Ayatullah Muhammad Al Yasir, menyampaikan optimisme tinggi menjelang pertandingan. Ia menilai seluruh pemain memiliki motivasi kuat untuk menjalankan strategi yang telah disiapkan pelatih. Menurutnya, kekuatan utama tim terletak pada kekompakan dan disiplin permainan.
Ia juga menegaskan bahwa tim tidak ingin terlalu terpaku pada kekuatan lawan. Negara-negara seperti Filipina, Malaysia, dan Thailand memang memiliki reputasi kuat di kawasan. Namun, fokus utama tim Indonesia tetap pada peningkatan performa sendiri dan pelaksanaan taktik secara konsisten.
Penutup
Persiapan kontingen Indonesia di Nakhon Ratchasima menunjukkan keseriusan dalam menghadapi ASEAN Para Games. Meski menghadapi tantangan perjalanan dan adaptasi lingkungan, para atlet tetap menjaga semangat dan disiplin latihan. Pendekatan bertahap yang diterapkan oleh tim pelatih diharapkan mampu mengantarkan atlet mencapai kondisi optimal saat pertandingan dimulai.
Dengan dukungan tim pelatih, tenaga medis, dan manajemen, kontingen Indonesia bertekad tampil maksimal. Ajang ini bukan hanya tentang perolehan medali, tetapi juga tentang semangat sportivitas, ketangguhan, dan kebanggaan membawa nama bangsa di level regional.