Curah hujan – tinggi kembali memicu banjir di Desa Idaman, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang. Air banjir naik dan merendam permukiman warga pada malam hari. Kondisi ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu sungai sejak sore. Akibatnya, debit air Sungai Cilemer meningkat dan meluap ke kawasan perkampungan.
Kepala Desa Idaman menjelaskan bahwa hujan turun merata di beberapa wilayah. Hujan tersebut mengguyur kawasan Pandeglang bagian atas serta wilayah Jalupang di Kabupaten Lebak. Aliran air dari dua daerah itu kemudian bergerak menuju hilir. Saat debit meningkat, sungai tidak mampu menampung volume air. Air pun meluap dan masuk ke rumah warga.
Selain itu, kondisi tanah yang sudah jenuh air mempercepat terjadinya genangan. Air banjir kemudian mengalir ke titik-titik rendah di permukiman warga. Situasi ini kembali menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.

Foto: Kondisi banjir di Kecamatan Patia, Pandeglang, pada Kamis (15/1) malam
Air Sempat Surut Namun Kembali Naik pada Malam Hari
Pada siang hari, kondisi sempat membaik. Air banjir menunjukkan tanda-tanda surut. Warga mulai membersihkan rumah dan lingkungan sekitar. Namun, harapan itu tidak berlangsung lama. Sekitar pukul 18.00 WIB, air kembali naik secara perlahan.
Kepala desa menyampaikan bahwa hujan kembali turun dengan intensitas tinggi pada sore hingga malam hari. Aliran air dari hulu kembali mengalir deras. Sungai Cilemer kembali meluap dan menggenangi perkampungan warga.
Perubahan kondisi ini terjadi dengan cepat. Warga tidak memiliki banyak waktu untuk bersiap. Beberapa keluarga langsung mengamankan barang-barang penting. Sebagian warga memilih bertahan di rumah. Sementara itu, keluarga yang tinggal di titik rawan mulai mencari tempat aman.
Ribuan Warga Terdampak dan Puluhan Mengungsi
Hingga malam hari, banjir masih merendam empat kampung di Desa Idaman. Air menggenangi rumah, jalan lingkungan, dan fasilitas umum. Kepala desa mencatat sebanyak 1.266 jiwa terdampak akibat kejadian ini.
Dari jumlah tersebut, sepuluh kepala keluarga memutuskan mengungsi. Mereka memilih meninggalkan rumah karena kondisi air terus naik. Selain itu, faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama. Para pengungsi menempati lokasi yang lebih tinggi dan aman dari genangan.
Pemerintah desa terus melakukan pemantauan di lapangan. Aparat desa juga berkoordinasi dengan warga setempat. Mereka memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi. Selain itu, pihak desa mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.
Warga Khawatir Banjir Terjadi Berulang Kali
Kekhawatiran juga muncul dari kalangan warga. Salah satu warga menyampaikan rasa cemas karena hujan masih terus turun. Ia menilai kondisi cuaca belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Situasi ini meningkatkan risiko banjir kembali terjadi.
Warga tersebut juga mengungkapkan bahwa banjir telah terjadi berulang kali. Sejak akhir tahun hingga awal tahun ini, wilayah Patia sudah mengalami banjir sebanyak empat kali. Frekuensi banjir yang tinggi membuat warga merasa lelah dan khawatir.
Selain kerugian materi, banjir juga mengganggu aktivitas sehari-hari. Anak-anak kesulitan bersekolah. Warga dewasa tidak dapat bekerja secara normal. Kondisi ini berdampak langsung pada perekonomian keluarga.
Perlunya Antisipasi dan Kesiapsiagaan Menghadapi Banjir
Kejadian banjir yang berulang menunjukkan perlunya langkah antisipasi yang lebih kuat. Pemerintah desa mengajak warga untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Warga diimbau memperhatikan informasi cuaca dan kondisi sungai secara berkala.
Selain itu, kerja sama antara masyarakat dan pemerintah daerah menjadi hal penting. Upaya pembersihan saluran air dan pengelolaan lingkungan perlu terus dilakukan. Dengan langkah tersebut, risiko banjir di masa mendatang dapat ditekan.
Banjir di Desa Idaman kembali menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan lingkungan dan kesiapsiagaan bencana. Selama curah hujan masih tinggi, kewaspadaan harus tetap terjaga.