Sejak awal peradaban – manusia terus memikirkan akhir dari segalanya. Dalam banyak kebudayaan, kisah kehancuran besar selalu muncul. Dalam agama, kiamat memiliki makna moral dan spiritual. Sementara itu, sains modern mendekati pertanyaan ini secara rasional. Oleh karena itu, kosmologi menjadi bidang utama untuk membahas akhir alam semesta.

Dalam kosmologi modern, ilmuwan menyusun teori berdasarkan pengamatan dan matematika. Dengan pendekatan ini, para peneliti mencoba memahami masa depan kosmos. Karena perkembangan teknologi, observasi semesta kini menjadi lebih akurat. Dengan demikian, sains mampu menawarkan beberapa skenario akhir alam semesta.

ilustrasi akhir alam semesta menurut sains dan kosmologi modern

Fenomena astronomi Mei 2025.(Scitechdaily)

Posisi Bumi dalam Skala Waktu Kosmik

Pada tingkat planet, Bumi menghadapi berbagai ancaman. Misalnya, aktivitas manusia merusak lingkungan global. Selain itu, asteroid besar dapat menabrak Bumi. Di sisi lain, Matahari memegang peran utama dalam nasib planet ini.

Dalam sekitar lima miliar tahun, Matahari akan memasuki fase raksasa merah. Akibat proses ini, Matahari akan mengembang sangat besar. Selanjutnya, panas ekstrem akan menghancurkan planet terdekat. Pada akhirnya, Bumi akan lenyap sepenuhnya.

Meskipun demikian, kehancuran Bumi tidak berarti akhir alam semesta. Dalam skala kosmik, peristiwa ini hanya episode kecil. Oleh sebab itu, kosmologi tidak berfokus pada satu planet. Sebaliknya, kosmologi menelaah seluruh struktur ruang dan waktu.

Big Freeze sebagai Akhir yang Paling Mungkin

Salah satu skenario utama bernama Big Freeze. Dalam skenario ini, alam semesta terus mengembang. Jika gravitasi gagal menghentikan ekspansi, proses ini akan berlanjut tanpa batas. Akibatnya, energi akan menyebar ke seluruh ruang.

Seiring waktu, suhu semesta akan menurun. Kemudian, bintang akan kehabisan bahan bakar. Setelah itu, cahaya kosmik akan menghilang. Dalam kondisi ini, ruang akan tampak gelap dan dingin.

Lubang hitam juga tidak bertahan selamanya. Secara perlahan, lubang hitam akan kehilangan massa. Selanjutnya, partikel subatomik akan mendominasi ruang. Pada tahap akhir, semesta akan mencapai keadaan hampir tanpa aktivitas fisik. Banyak ilmuwan menyebut kondisi ini sebagai kematian panas kosmos.

Big Crunch sebagai Skenario Alternatif

Skenario lain dikenal sebagai Big Crunch. Dalam model ini, gravitasi memiliki kekuatan lebih besar. Jika kondisi ini terjadi, ekspansi akan berhenti. Setelah itu, ruang akan mulai menyusut.

Selama penyusutan, seluruh materi akan bergerak menuju satu pusat. Energi dan ruang akan menyatu kembali. Akhirnya, semesta akan runtuh ke satu titik padat. Keadaan ini akan menyerupai kondisi sebelum Big Bang.

Skenario ini memerlukan kandungan materi dan energi yang sangat tinggi. Oleh karena itu, ilmuwan terus mengukur parameter kosmologis. Data observasi menjadi kunci untuk menilai kemungkinan Big Crunch.

Petunjuk dari Radiasi Latar Kosmik

Untuk memahami masa depan semesta, ilmuwan mempelajari radiasi latar gelombang mikro kosmik. Cahaya ini berasal dari sisa Big Bang. Dengan analisis detail, peneliti memperoleh gambaran struktur semesta awal.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa alam semesta bersifat datar. Dengan kondisi ini, ekspansi akan melambat. Namun, proses tersebut tidak akan berhenti dalam waktu terbatas. Oleh karena itu, banyak model mendukung skenario Big Freeze.

Big Slurp dan Peran Medan Higgs

Selain skenario kosmik besar, fisika partikel menghadirkan kemungkinan lain. Skenario ini dikenal sebagai Big Slurp. Dalam konteks ini, Higgs boson memegang peran utama.

Higgs boson memberi massa pada hampir semua partikel elementer. Tanpa medan Higgs, atom tidak akan terbentuk. Dengan kata lain, struktur materi bergantung pada medan ini.

Pengukuran menunjukkan massa Higgs boson sekitar 125 gigaelektronvolt. Nilai ini menempatkan medan Higgs dalam kondisi metastabil. Artinya, alam semesta berada dalam keadaan sementara.

Jika medan Higgs berpindah ke keadaan energi lebih rendah, hukum fisika akan berubah. Struktur atom akan runtuh. Interaksi dasar akan kehilangan kestabilan. Selanjutnya, gelembung kehancuran akan terbentuk. Gelembung ini akan menyebar dengan kecepatan cahaya. Semua yang dilewati akan musnah.

Probabilitas dan Upaya Penelitian Lanjutan

Untungnya, peluang Big Slurp sangat kecil. Perhitungan teori menunjukkan skala waktu kejadian sangat panjang. Angka tersebut jauh melampaui usia alam semesta saat ini. Dengan demikian, ancaman ini tidak relevan bagi kehidupan manusia sekarang.

Meskipun begitu, ilmuwan tetap melakukan penelitian lanjutan. Untuk tujuan ini, mereka mengembangkan akselerator partikel generasi baru. Proyek tersebut bertujuan meningkatkan presisi pengukuran partikel fundamental. Dengan pemahaman ini, ilmuwan dapat menilai kestabilan kosmos secara lebih akurat.

Penutup Kajian Kosmologi

Secara keseluruhan, sains menawarkan berbagai gambaran akhir alam semesta. Setiap skenario bergantung pada hukum fisika yang terukur. Hingga kini, data observasi mendukung ekspansi jangka panjang.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk panik. Namun, rasa ingin tahu tetap mendorong penelitian lanjutan. Pada akhirnya, pertanyaan tentang nasib kosmos tetap menjadi tantangan besar dalam sains modern.