Kapibara – dikenal sebagai hewan pengerat terbesar di dunia dan hidup di wilayah Amerika Selatan. Di alam liar, hewan ini sering terlihat berenang atau beristirahat di perairan yang sama dengan predator berbahaya seperti buaya. Fenomena tersebut kerap memunculkan pertanyaan: mengapa kapibara tampak aman di dekat predator, tetapi justru memicu konflik ketika memasuki kawasan permukiman manusia?
Di lahan basah, bantaran sungai, dan rawa-rawa Amerika Selatan, kapibara bergerak dengan tenang dan percaya diri. Lingkungan ini menyediakan sumber air, vegetasi melimpah, serta ruang yang mendukung perilaku alami mereka. Kondisi tersebut menciptakan keseimbangan antara kapibara dan predator alami di sekitarnya.

Buaya dan kapibara. Kenapa buaya ogah makan kapibara?(Danita Delimont/Shutterstock.com)
Alasan Buaya Jarang Menyerang Kapibara Dewasa
Para peneliti sejak lama mengamati interaksi antara kapibara dan buaya, termasuk buaya yacare. Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa buaya jarang menjadikan kapibara dewasa sebagai sasaran utama. Dr. Elizabeth Congdon, peneliti kapibara dan dosen di Bethune-Cookman University, menjelaskan bahwa buaya melakukan perhitungan risiko sebelum menyerang mangsa.
Kapibara dewasa memiliki bobot lebih dari 45 kilogram serta gigi seri besar dan tajam. Kondisi tersebut membuat kapibara mampu memberikan perlawanan yang berbahaya bagi predator. Bagi buaya, luka serius dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, predator memilih mangsa lain yang lebih kecil dan mudah ditaklukkan.
Selain ukuran tubuh, kapibara menguasai lingkungan perairan dengan sangat baik. Kaki berselaput membantu mereka berenang cepat, sementara posisi mata, telinga, dan hidung di bagian atas kepala memungkinkan mereka mengawasi lingkungan tanpa menampakkan tubuh. Kapibara juga mampu menahan napas hingga lima menit, sehingga mereka dapat bersembunyi di dalam air saat menghadapi ancaman.
Kerentanan Anak Kapibara dan Strategi Bertahan Hidup
Anak kapibara menghadapi risiko lebih tinggi dibandingkan individu dewasa. Predator seperti ocelot, anaconda, dan elang harpy kerap mengincar individu muda. Namun, sistem sosial kapibara membantu menekan risiko tersebut.
Kapibara hidup dalam kelompok besar yang sering beranggotakan lebih dari selusin individu. Anggota kelompok menjalankan sistem berjaga secara bergantian ketika yang lain makan atau beristirahat. Strategi ini meningkatkan kewaspadaan dan memperkecil peluang serangan mendadak.
Selain itu, kapibara menggunakan berbagai bentuk komunikasi. Mereka mengeluarkan suara seperti ciutan, siulan, dan dengkuran untuk menyampaikan peringatan atau menjaga kohesi kelompok. Penandaan bau juga membantu memperkuat struktur sosial dan mengenali wilayah.
Konflik Kapibara di Kawasan Perkotaan
Situasi berubah drastis ketika kapibara memasuki ruang hidup manusia. Pada tahun 2021, warga Nordelta, kawasan permukiman elite dekat Buenos Aires, melaporkan peningkatan kehadiran kapibara. Hewan-hewan ini merusak taman, menerobos pagar, dan melukai hewan peliharaan.
Fenomena tersebut tidak muncul tanpa sebab. Alih fungsi lahan basah menjadi permukiman menghilangkan habitat alami kapibara. Ketika manusia mengubah lanskap, kapibara tetap mengikuti naluri ekologis mereka dan mencari sumber air serta vegetasi. Akibatnya, pertemuan antara manusia dan kapibara tidak terhindarkan.
Para konservasionis menilai bahwa konflik ini mencerminkan kegagalan tata ruang dalam menjaga penyangga ekologi. Kapibara tidak “menyerang” kota, melainkan kembali ke wilayah yang sebelumnya mendukung kehidupan mereka.
Perlindungan, Pemanfaatan, dan Tantangan Baru
Di beberapa negara Amerika Selatan, hukum melindungi kapibara sebagai satwa liar. Namun, masyarakat juga memanfaatkan daging dan kulit kapibara secara komersial. Untuk menekan perburuan liar, beberapa pihak mengembangkan peternakan kapibara.
Langkah ini membawa tantangan baru, terutama terkait kesejahteraan hewan dan pengelolaan lahan yang berkelanjutan. Tanpa regulasi yang jelas, praktik ini berpotensi menciptakan masalah lingkungan baru.
Kesimpulan: Keseimbangan Alam yang Perlu Dijaga
Kapibara mampu hidup aman di alam liar berkat kombinasi ukuran tubuh, adaptasi akuatik, perilaku sosial, dan strategi menghindari risiko predator. Keseimbangan ini bekerja efektif selama habitat alami tetap terjaga.
Namun, ketika manusia mengubah lanskap secara masif, keseimbangan tersebut terganggu. Kapibara yang damai di alam dapat berubah menjadi sumber konflik di kawasan perkotaan. Oleh karena itu, perencanaan ruang, konservasi habitat, dan edukasi masyarakat memegang peran penting dalam menjaga harmoni antara manusia dan satwa liar.