Banjir bandang – dan tanah longsor di Aceh menimbulkan dampak besar bagi kehidupan masyarakat. Bencana hidrometeorologi tersebut terjadi pada akhir November 2025 dan melanda 18 kabupaten serta kota. Peristiwa ini tidak hanya merusak permukiman warga. Namun, bencana juga menghancurkan sumber penghidupan utama masyarakat, khususnya sektor pertanian dan perkebunan.
Kabupaten Bener Meriah menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling berat. Daerah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai sentra produksi kopi Gayo. Kopi Gayo memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat setempat. Oleh karena itu, kerusakan kebun kopi memicu kekhawatiran besar di kalangan petani dan pemerintah daerah.

Ilustrasi kebun kopi di Aceh Tengah. Foto: Zuhri Noviandi(Zuhri Noviandi)
Kerusakan Ratusan Hektare Kebun Kopi di Bener Meriah
Bencana banjir bandang mengakibatkan kerusakan lahan perkebunan kopi milik warga dengan skala luas. Data dari Pos Komando Penanganan Bencana Aceh menunjukkan total kebun kopi terdampak mencapai sekitar 445,583 hektare. Angka ini mencerminkan besarnya tekanan ekonomi yang kini dihadapi masyarakat Bener Meriah.
Sebaran kerusakan kebun kopi meliputi delapan kecamatan. Kecamatan Bukit mencatat kerusakan terluas dengan total 198,179 hektare. Selanjutnya, Kecamatan Mesidah mengalami kerusakan seluas 122,147 hektare. Kecamatan Wih Pesam juga terdampak cukup signifikan dengan luas 76,700 hektare.
Selain itu, Kecamatan Permata mencatat kerusakan 36,650 hektare, disusul Kecamatan Gajah Putih seluas 8,469 hektare. Kerusakan juga terjadi di Kecamatan Bener Kelipah seluas 1,750 hektare, Kecamatan Bandar 1,563 hektare, serta Kecamatan Timang Gajah 0,125 hektare. Sementara itu, kebun kopi di Kecamatan Pintu Rime Gayo dan Syiah Utama tidak mengalami dampak langsung.
Kerusakan Lahan Pertanian Selain Kopi
Selain kebun kopi, bencana ini juga memukul sektor pertanian lainnya. Lahan sawah di wilayah terdampak mengalami kerusakan seluas 68,732 hektare. Kondisi ini berpotensi mengganggu ketahanan pangan masyarakat setempat.
Di Kecamatan Syiah Utama, kerusakan lahan perkebunan non-kopi mencapai 214,270 hektare. Selain itu, kolam ikan milik warga seluas 2,505 hektare juga mengalami kerusakan. Jika digabungkan, total kerusakan lahan pertanian dan perkebunan di Bener Meriah mencapai 731,089 hektare. Angka ini menunjukkan besarnya tantangan pemulihan pascabencana.
Infrastruktur dan Permukiman Warga Turut Terdampak
Bencana banjir bandang dan longsor juga merusak berbagai fasilitas umum dan infrastruktur penting. Sebanyak 166 jembatan mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Selain itu, bencana memengaruhi 81 ruas jalan yang berperan penting dalam mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian.
Data lapangan juga mencatat 61 titik longsor serta 27 lokasi banjir di berbagai wilayah. Dampak tersebut memperlambat proses evakuasi dan distribusi bantuan. Dari sisi permukiman, sebanyak 1.797 rumah warga mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat.
Korban Jiwa dan Pengungsian Warga
Bencana ini juga menimbulkan korban jiwa. Sebanyak 31 orang meninggal dunia, sementara 14 orang masih dinyatakan hilang. Selain itu, lima orang mengalami luka-luka dan membutuhkan perawatan medis. Total warga terdampak mencapai 183.043 jiwa yang tersebar di 10 kecamatan dan 232 desa.
Sebagian warga terpaksa meninggalkan rumah demi keselamatan. Sebanyak 2.116 jiwa menempati lokasi pengungsian terpusat. Di sisi lain, 2.452 jiwa memilih mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat atau lokasi yang dianggap aman.
Langkah Pemulihan dan Fokus Rehabilitasi
Saat ini, Kabupaten Bener Meriah telah melewati masa tanggap darurat dan memasuki tahap transisi hingga 6 April mendatang. Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus menjalankan upaya pemulihan secara bertahap. Fokus utama saat ini mencakup penanganan korban, pemulihan akses transportasi, serta perbaikan infrastruktur vital.
Selain itu, pemerintah menyiapkan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi jangka menengah. Sektor pertanian, khususnya kebun kopi Gayo, menjadi prioritas utama. Upaya ini bertujuan memulihkan perekonomian masyarakat dan memastikan keberlanjutan mata pencaharian petani di Bener Meriah.