Love scamming – terungkapnya sindikat  di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, membuka mata publik terhadap skala besar kejahatan penipuan asmara digital. Aparat penegak hukum menemukan bahwa praktik ini tidak berjalan secara acak, melainkan mengikuti sistem kerja rapi menyerupai industri profesional. Para pelaku secara aktif menargetkan pengguna aplikasi kencan dari luar negeri, membangun hubungan emosional, lalu mengarahkan korban untuk mengirimkan uang melalui mekanisme koin digital.

Aparat kepolisian menyampaikan bahwa sindikat tersebut menjalankan sistem kerja berbasis shift. Setiap tim mampu mengumpulkan jutaan koin digital setiap bulan dengan nilai fantastis. Skema ini menegaskan bahwa love scamming telah berkembang menjadi kejahatan lintas negara dengan struktur terorganisasi dan pembagian peran yang jelas.

Ilustrasi korban love scamming yang mengalami tekanan emosional dan kerugian finansial

Ilustrasi korban love scam. Kisah Korban Love Scam yang Menyasar Warga Sukoharjo, Terbuai Janji Manis hingga Rugi Puluhan Juta(freepik)

Modus Love Scamming Memanfaatkan Kerentanan Emosional

Di balik aliran uang bernilai miliaran rupiah, para korban menanggung luka emosional dan tekanan finansial yang berat. Salah satu korban berasal dari Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Keluarga korban menceritakan bahwa kasus ini bermula dari komunikasi melalui WhatsApp ketika kondisi psikologis korban sedang rapuh akibat konflik rumah tangga.

Situasi emosional yang tidak stabil membuka celah bagi pelaku untuk masuk dan membangun kedekatan. Pelaku tidak hanya mengirim pesan teks, tetapi juga melakukan panggilan suara dan video call secara intensif. Intensitas komunikasi tersebut menciptakan ilusi kehadiran emosional yang kuat, sehingga korban menganggap pelaku sebagai sumber dukungan dan penghiburan.

Janji Manis dan Narasi Masa Depan Menjadi Senjata Utama

Pelaku love scamming tidak mengandalkan kebohongan kasar. Mereka menyusun narasi masa depan secara perlahan dan meyakinkan. Janji pernikahan, kehidupan mapan, serta dukungan finansial menjadi alat utama untuk mengikat korban secara emosional. Faktor ekonomi keluarga korban yang terbatas membuat janji tersebut terasa realistis dan menggoda.

Seiring berjalannya waktu, keluarga mulai melihat perubahan perilaku korban. Korban lebih sering mengisolasi diri, menghabiskan waktu bersama ponsel hingga larut malam, serta menunjukkan emosi yang mudah meledak ketika aktivitas digitalnya terganggu. Fokus terhadap anak dan lingkungan sekitar pun menurun drastis.

Tekanan Finansial Berujung Kerugian Puluhan Juta Rupiah

Kecurigaan keluarga memuncak ketika korban mendatangi rumah-rumah tetangga untuk meminjam uang dalam kondisi panik. Desakan pelaku mendorong korban untuk terus mencari dana dengan berbagai cara. Korban memanfaatkan pinjaman dari tetangga, layanan pinjaman online, hingga kredit digital.

Total kerugian mencapai puluhan juta rupiah. Bahkan, beberapa tetangga yang sempat berbicara langsung dengan pelaku mengaku merasakan pengaruh psikologis yang kuat. Nada bicara pelaku dan alur cerita yang ia bangun membuat mereka sulit berpikir jernih dan cenderung menuruti permintaan uang.

Dampak Psikologis Love Scamming Lebih Dalam dari Kerugian Uang

Kerugian finansial hanya menjadi satu sisi dari penderitaan korban. Secara psikologis, korban menunjukkan tanda kebingungan, kehampaan emosional, dan penyangkalan. Meskipun keluarga telah menjelaskan bahwa ia menjadi korban penipuan, korban masih meyakini bahwa pelaku benar-benar mencintainya.

Kondisi tersebut menunjukkan betapa dalam manipulasi emosional yang pelaku tanamkan. Keluarga akhirnya mengambil langkah tegas dengan memutus akses komunikasi korban dan mengelola seluruh kewajiban utang yang muncul akibat penipuan tersebut.

Teknik Psikologis yang Digunakan Pelaku Love Scamming

Psikolog menjelaskan bahwa pelaku love scamming memanfaatkan teknik love bombing. Teknik ini bekerja dengan memberikan perhatian berlebihan, pujian intens, serta janji manis dalam waktu singkat. Pola tersebut memicu lonjakan emosi positif sehingga korban merasa menemukan pasangan ideal.

Selain itu, pelaku kerap membangun citra sebagai figur berstatus tinggi, seperti tentara, pilot, atau pengusaha sukses. Identitas ini menciptakan rasa aman dan kepercayaan. Setelah ikatan terbentuk, pelaku memasuki fase krisis buatan dengan menciptakan situasi darurat palsu untuk memancing empati dan rasa tanggung jawab korban.

Love Scamming Sebagai Ancaman Sosial dan Psikologis

Fenomena love scamming menunjukkan bahwa kejahatan ini tidak hanya menyerang aspek finansial, tetapi juga menargetkan sisi terdalam psikologi manusia. Kesepian, harapan, dan kebutuhan akan kasih sayang menjadi celah yang pelaku eksploitasi secara sistematis.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam interaksi digital. Masyarakat perlu membangun literasi emosional dan digital, serta berani mencari bantuan profesional ketika menghadapi tekanan hidup. Sikap terbuka, komunikasi dengan keluarga, dan pelaporan kepada aparat berperan penting dalam memutus mata rantai kejahatan love scamming.