Post Holiday – masa libur sering menghadirkan rasa senang, rileks, dan bebas dari tekanan rutinitas. Namun, setelah libur berakhir, banyak individu justru merasakan perubahan emosi yang kurang menyenangkan. Kondisi ini dikenal dengan istilah post holiday blues. Fenomena tersebut dapat dialami oleh berbagai kelompok usia. Pekerja, pelajar, hingga mahasiswa sering menghadapi kondisi emosional ini.

Psikolog klinis menjelaskan bahwa post holiday blues muncul sebagai respons psikologis terhadap perubahan aktivitas. Individu yang terbiasa dengan kegiatan santai harus kembali menghadapi tuntutan harian. Perubahan ini memicu ketidaknyamanan emosional. Oleh karena itu, kondisi tersebut dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang latar belakang.

Ilustrasi seseorang mengalami post holiday blues setelah liburan berakhir

Ilustrasi – Pengunjung menikmati suasana matahari terbenam (sunset) akhir tahun 2025 di Pantai Meninting, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Rabu (31/12/2025). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/tom.

Pengertian dan Penyebab Post Holiday Blues

Post holiday blues menggambarkan kondisi emosional sementara setelah masa libur atau perayaan selesai. Kondisi ini tidak termasuk gangguan mental. Sebaliknya, tubuh dan pikiran sedang beradaptasi kembali dengan ritme kehidupan sehari-hari. Selain itu, transisi dari aktivitas menyenangkan menuju kewajiban rutin sering memicu stres ringan.

Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas liburan meningkatkan hormon kebahagiaan. Namun, setelah libur berakhir, kadar hormon tersebut menurun. Akibatnya, individu merasakan perubahan suasana hati. Di sisi lain, tuntutan akademik dan pekerjaan kembali menekan pikiran. Kondisi ini memicu rasa berat saat memulai rutinitas.

Tanda dan Gejala yang Sering Muncul

Seseorang yang mengalami post holiday blues biasanya menunjukkan beberapa tanda emosional dan fisik. Individu sering merasa sedih tanpa alasan yang jelas. Selain itu, rasa hampa juga dapat muncul secara tiba-tiba. Banyak orang kehilangan motivasi untuk kembali bekerja atau belajar.

Gejala lain juga dapat muncul dalam bentuk kelelahan berlebih. Tubuh terasa lesu meskipun aktivitas belum terlalu padat. Konsentrasi menurun dan fokus menjadi sulit. Selain itu, gangguan tidur sering terjadi. Individu bisa sulit tidur atau merasa tidak segar saat bangun. Perasaan cemas dan mudah tersinggung juga sering menyertai kondisi ini.

Durasi Post Holiday Blues yang Masih Wajar

Post holiday blues umumnya berlangsung singkat. Kondisi ini masih tergolong wajar jika terjadi selama beberapa hari hingga dua minggu. Dalam periode tersebut, suasana hati perlahan membaik. Energi juga akan menyesuaikan kembali dengan rutinitas harian. Tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Namun demikian, setiap individu memiliki proses adaptasi yang berbeda. Tidak ada batas waktu pasti untuk kondisi ini. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan perubahan yang terjadi. Jika gejala mulai mereda, maka adaptasi berjalan dengan baik.

Perlu Waspada Jika Gejala Bertahan Lama

Kewaspadaan perlu muncul ketika post holiday blues berlangsung lebih dari dua minggu. Kondisi ini juga perlu perhatian lebih jika gejala semakin berat. Gangguan pada fungsi akademik atau pekerjaan menjadi tanda penting. Individu mungkin mulai kesulitan menyelesaikan tugas harian.

Selain itu, perasaan sedih yang semakin dalam juga patut diwaspadai. Jika kondisi tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari, maka individu perlu mencari bantuan profesional. Konsultasi dengan psikolog klinis atau psikiater dapat membantu proses pemulihan. Langkah ini bertujuan untuk mencegah kondisi berkembang menjadi masalah kesehatan mental lain.

Cara Menghadapi Post Holiday Blues Secara Sehat

Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengatasi post holiday blues. Pertama, individu dapat menyusun jadwal secara bertahap. Mulai dengan tugas ringan sebelum kembali ke beban penuh. Selain itu, menjaga pola tidur yang teratur juga sangat penting.

Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki dapat membantu meningkatkan energi. Di sisi lain, menjaga komunikasi sosial juga berperan besar. Berbagi cerita dengan keluarga atau teman dapat membantu meredakan emosi. Dengan demikian, proses adaptasi akan berjalan lebih lancar.

Kesimpulan

Post holiday blues merupakan respons adaptif terhadap perubahan rutinitas setelah liburan. Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja. Gejala seperti sedih, lelah, dan menurunnya motivasi sering muncul. Namun, kondisi ini masih tergolong normal jika berlangsung singkat. Oleh karena itu, pemahaman dan pengelolaan yang tepat sangat penting. Jika gejala bertahan lama, individu perlu segera mencari bantuan profesional. Dengan pendekatan yang tepat, keseimbangan emosi dapat kembali terjaga.