Pertahanan Antariksa Amerika Serikat memasuki babak baru ketika kawasan yang membentang dari orbit Bumi menuju Bulan mulai masuk dalam perencanaan militernya. Perubahan tersebut mengikuti pesatnya eksplorasi luar angkasa sekaligus meningkatnya ketergantungan negara terhadap teknologi berbasis satelit.

Selama bertahun-tahun, satelit membantu banyak aktivitas penting di Bumi. Navigasi, komunikasi, pemantauan cuaca, pengumpulan informasi hingga sejumlah operasi pertahanan bergantung pada teknologi yang bekerja di atas atmosfer. Ketergantungan itu membuat keamanan infrastruktur antariksa memperoleh perhatian lebih besar.

Amerika Serikat kini melihat bahwa tantangan pada masa mendatang mungkin tidak terbatas pada orbit tempat sebagian besar satelit beroperasi. Aktivitas manusia yang bergerak menuju Bulan membuat kawasan yang lebih jauh juga mulai masuk ke dalam perhitungan strategis.

Pandangan tersebut muncul dalam Air, Space and Cyber Conference di National Harbor, Maryland. Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine menggunakan forum itu untuk menjelaskan pentingnya kesiapan menghadapi perubahan lingkungan keamanan pada masa depan.

Alih-alih membatasi kesiapan pada wilayah konvensional, Caine menginginkan angkatan bersenjata Amerika mampu menjalankan tugasnya dalam cakupan operasi yang jauh lebih luas. Salah satu wilayah yang ia soroti ialah cislunar.

Apa yang Membuat Ruang Cislunar Penting?

Cislunar secara sederhana menggambarkan kawasan yang berkaitan dengan ruang antara Bumi dan Bulan. Wilayah tersebut memperoleh perhatian baru seiring meningkatnya ambisi berbagai negara untuk melakukan eksplorasi Bulan.

Kemajuan teknologi membuat perjalanan ke Bulan tidak lagi identik dengan perlombaan antariksa pada abad ke-20. Pemerintah dan perusahaan swasta sekarang mengembangkan berbagai proyek yang berhubungan dengan penerbangan, penelitian, komunikasi, transportasi hingga eksplorasi jangka panjang.

Perubahan aktivitas tersebut ikut memengaruhi cara pemerintah Amerika memikirkan perlindungan kepentingannya.

Letjen Gregory Gagnon dari Space Forces-Space melihat perkembangan perjalanan manusia sebagai salah satu alasan untuk memperluas perhatian. Menurut pendekatan tersebut, kemampuan pengamanan juga perlu mengikuti apabila manusia dan infrastruktur bergerak semakin jauh dari Bumi.

Amerika memiliki Space Force untuk menjalankan berbagai tanggung jawab pertahanan yang berhubungan dengan antariksa. Cabang angkatan bersenjata itu lahir pada 2019 ketika Donald Trump menjalani periode pertamanya sebagai presiden.

Jumlah Personel Space Force Ingin Ditingkatkan

Perubahan strategi tidak hanya menyangkut wilayah operasi. AS juga merencanakan peningkatan sumber daya manusia untuk mendukung kebutuhan baru.

Gagnon menargetkan kekuatan Space Force mencapai kurang lebih 25.000 personel dalam periode lima tahun. Jika rencana tersebut berjalan, bagian yang berhubungan dengan operasi tempur akan memperoleh porsi besar dari penambahan anggota.

Penguatan itu berkaitan dengan strategi pencegahan. Dalam konsep tersebut, keberadaan kemampuan pertahanan berfungsi membuat pihak lain memperhitungkan konsekuensi sebelum mengganggu kepentingan Amerika.

Washington menilai kebutuhan tersebut semakin relevan karena teknologi antariksa memainkan peranan besar dalam aktivitas militer modern. Hilangnya akses terhadap satelit tertentu, misalnya, dapat memengaruhi komunikasi, navigasi atau pengumpulan informasi.

Karena itu, kemampuan mempertahankan fungsi sistem antariksa mempunyai nilai strategis bahkan ketika tidak terjadi pertempuran secara langsung di luar atmosfer.

Pertahanan antariksa Amerika Serikat

Ilustrasi bulan. Cold Moon hadir pada 4-5 Desember 2025 dengan ukuran sekitar 10 persen lebih besar. Simak waktu terbaik melihatnya dan pesisir rawan rob.

Teknologi Orbit Memunculkan Dimensi Baru

Isu lain yang ikut mencuri perhatian berkaitan dengan kemampuan Amerika yang beroperasi langsung di orbit.

Menteri Angkatan Udara Troy Meink mengungkap bahwa negaranya mempunyai teknologi untuk menjalankan fungsi pengendalian ruang angkasa dari orbit. Amerika menggunakan istilah on-orbit space control weapons untuk menyebut kemampuan tersebut.

Pengungkapan ini menambah dimensi baru dalam pembicaraan mengenai keamanan antariksa.

Pada masa sebelumnya, publik lebih banyak mengenal pengujian antisatelit yang melibatkan peluncuran sistem dari permukaan menuju sasaran di luar atmosfer. Beberapa negara pernah menguji kemampuan semacam itu terhadap objek mereka sendiri.

Namun, perkembangan teknologi memungkinkan bentuk operasi yang semakin beragam. Gangguan terhadap aset antariksa tidak harus selalu berbentuk penghancuran satelit secara fisik. Sistem elektronik, komunikasi, sensor, dan teknologi lainnya juga memiliki peranan penting dalam lingkungan tersebut.

China Masuk Kalkulasi Strategis Amerika

Persiapan pertahanan antariksa Amerika Serikat tidak terlepas dari perkembangan kemampuan negara lain.

Para pejabat pertahanan AS merujuk hasil penilaian intelijen ketika membicarakan potensi ancaman. Mereka melihat adanya upaya dari sejumlah negara untuk meningkatkan kemampuan yang dapat digunakan dalam persaingan di luar atmosfer.

China menjadi salah satu negara yang paling banyak mendapat perhatian.

Beijing menjalankan program antariksa yang berkembang cepat dan telah mencatat berbagai kemajuan dalam eksplorasi Bulan. Pada saat bersamaan, China juga membangun kemampuan militer yang berhubungan dengan ruang angkasa.

Restrukturisasi militer pada 2024 menjadi salah satu perkembangan penting. Perubahan tersebut menciptakan struktur baru yang menangani sejumlah fungsi strategis, termasuk dukungan terhadap operasi antariksa.

Dari perspektif Washington, perkembangan teknologi tersebut perlu masuk ke dalam kalkulasi keamanan nasional.

Beijing, sebaliknya, tidak menerima begitu saja argumentasi Amerika.

Beijing Meminta Antariksa Tidak Menjadi Arena Perlombaan Senjata

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan keberatan pemerintahnya terhadap peningkatan kemampuan militer Amerika di ruang angkasa.

Dalam pernyataan pada 15 September 2026, Beijing menekankan penggunaan antariksa untuk kepentingan damai. China juga menyatakan penentangannya terhadap perlombaan persenjataan di lingkungan tersebut.

Pemerintah China kemudian menyerukan agar Amerika tidak terus memperbesar persiapan militernya di luar atmosfer.

Situasi ini memperlihatkan perbedaan narasi kedua negara. Amerika menempatkan peningkatan kemampuan sebagai bagian dari pencegahan terhadap potensi ancaman. Sementara itu, China memperingatkan risiko yang muncul apabila negara-negara semakin memperluas persenjataan antariksa.

Teknologi Berkembang Lebih Cepat daripada Aturan Lama

Perdebatan tersebut akhirnya membawa perhatian pada aturan internasional.

Dunia memiliki Outer Space Treaty yang berasal dari 1967. Perjanjian itu lahir ketika teknologi antariksa masih berada pada tahap yang sangat berbeda dibandingkan sekarang.

Salah satu ketentuannya membatasi keberadaan senjata pemusnah massal di luar Bumi. Aturan lain memberikan perlindungan khusus terhadap pemanfaatan Bulan dan benda langit.

Persoalannya, teknologi abad ke-21 menghadirkan kemampuan yang jauh lebih kompleks daripada ketika negara-negara menyusun perjanjian tersebut.

Sistem modern dapat menjalankan fungsi pengawasan, perlindungan, komunikasi, gangguan elektronik ataupun aktivitas lain tanpa harus menggunakan senjata pemusnah massal. Kondisi tersebut menciptakan ruang perdebatan mengenai batas antara penggunaan teknologi untuk pertahanan dan persenjataan antariksa.

Perkembangan inilah yang membuat kawasan Bumi-Bulan semakin relevan dalam pembahasan keamanan global.

Bagi Amerika, peningkatan aktivitas menuju Bulan menciptakan kebutuhan untuk mempersiapkan perlindungan kepentingan nasional lebih jauh dari orbit Bumi. China pada saat yang sama mengingatkan bahaya perlombaan senjata.

Dengan semakin banyaknya misi menuju Bulan, persoalan berikutnya bukan sekadar siapa yang mampu menjelajah paling jauh. Negara-negara juga menghadapi tantangan untuk menentukan bagaimana keamanan, aktivitas sipil, eksplorasi ilmiah, dan kepentingan pertahanan dapat berjalan tanpa mendorong ruang angkasa menjadi arena konflik baru.