Operasi Pengasingan Ekonomi Iran menjadi langkah terbaru Amerika Serikat untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran mulai Senin (24/8/2026). Washington mengarahkan strategi tersebut untuk mempersempit sumber pemasukan Iran setelah operasi militer sebelumnya tidak berhasil memaksa Teheran menyerahkan sekitar 11 ton cadangan uranium yang telah mengalami pengayaan maupun menjatuhkan pemerintahan Iran.

Pemerintah Amerika Serikat kini memilih memperbesar tekanan melalui sektor ekonomi. Gedung Putih ingin membatasi kemampuan Iran menjalankan transaksi keuangan internasional, perdagangan minyak, transfer minyak dari kapal ke kapal, hingga transaksi emas di pasar global.

Washington menilai berbagai jalur tersebut masih menopang perekonomian Iran di tengah tekanan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Karena itu, pemerintah AS berusaha menutup sebanyak mungkin akses yang memungkinkan Teheran memperoleh devisa.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kebijakan tersebut sebagai operasi jangka panjang. Pemerintah AS ingin mempersempit pilihan ekonomi Iran sekaligus meningkatkan tekanan terhadap aparat yang menopang pemerintahan Teheran.

Bessent juga mengarahkan pesannya kepada prajurit Iran. Menurutnya, gangguan terhadap pembayaran gaji dapat mendorong mereka mempertanyakan arah kebijakan para pemimpin dan komandan mereka. Ia bahkan menyinggung runtuhnya Tembok Berlin sebagai gambaran tentang perubahan sikap aparat keamanan ketika menghadapi masyarakat.

China Menjadi Faktor Penting dalam Tekanan AS

Keberhasilan Operasi Pengasingan Ekonomi Iran tidak hanya bergantung pada langkah Washington. China memegang posisi penting karena negara tersebut menjadi salah satu tujuan utama minyak yang Iran jual ke pasar internasional.

Sepanjang 2025, China menampung lebih dari 80 persen volume ekspor minyak Iran. Besarnya porsi tersebut membuat hubungan perdagangan Beijing dan Teheran menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan efektivitas strategi ekonomi terbaru Amerika Serikat.

Bessent telah memperingatkan kemungkinan penerapan sanksi sekunder terhadap negara atau pihak yang tetap menjalankan transaksi dengan Iran. Namun, ia tidak secara langsung menyebut China ketika menyampaikan ancaman tersebut.

Sikap itu menunjukkan kehati-hatian Washington dalam mengelola hubungannya dengan Beijing. Amerika Serikat berusaha menghindari munculnya ketegangan ekonomi baru menjelang rencana kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke Washington.

Pakar sanksi ekonomi Georgetown Law School, Peter Harrell, melihat pertimbangan politik berada di balik pendekatan tersebut. Menurut analisisnya, pemerintahan Donald Trump lebih memilih menggunakan kekuatan angkatan laut untuk menghambat pergerakan kapal tanker Iran daripada langsung menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan besar China yang masih berhubungan dengan Teheran.

Pilihan itu memungkinkan Washington meningkatkan tekanan terhadap ekspor minyak Iran tanpa segera membuka konflik ekonomi yang lebih besar dengan Beijing.

Operasi Pengasingan Ekonomi Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri acara kesehatan di South Court Auditorium, Gedung Putih, Washington DC, 18 Mei 2026.

AS Sudah Lama Menekan Perekonomian Iran

Amerika Serikat sebenarnya telah menggunakan sanksi sebagai instrumen tekanan terhadap Iran selama bertahun-tahun. Washington mulai memperluas berbagai pembatasan pada masa pemerintahan George W. Bush. Donald Trump kemudian meningkatkan pendekatan tersebut melalui kampanye yang dikenal sebagai strategi “tekanan maksimum” pada periode pertamanya sebagai presiden.

Namun, berbagai pembatasan finansial sebelumnya belum mampu menghentikan seluruh ekspor minyak Iran. Teheran masih sanggup mengirim sekitar 2 juta hingga 3 juta barel minyak per hari meskipun menghadapi beragam hambatan dalam sistem keuangan internasional.

Situasi kini berubah setelah Amerika Serikat meningkatkan keterlibatan militernya di kawasan. Kehadiran armada AS dan pembatasan terhadap kapal tanker Iran membuat arus pengiriman minyak mengalami penurunan besar.

Washington berharap kombinasi tekanan ekonomi dan kekuatan militer dapat mempersempit ruang gerak Teheran. Strategi tersebut juga menyasar sumber pendapatan lain agar Iran semakin kesulitan mengakses mata uang asing dan membiayai aktivitas pemerintahannya.

Material Nuklir Iran Tetap Menjadi Persoalan

Program nuklir Iran tetap berada di pusat perselisihan antara kedua negara. Data pemantauan satelit menunjukkan material nuklir Iran belum berpindah dari fasilitas terisolasi setelah operasi pengeboman pada Juni 2025.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa serangan militer belum menghasilkan tujuan utama yang Washington inginkan. Amerika Serikat sebelumnya berupaya membuat Teheran menyerahkan sekitar 11 ton cadangan uranium yang telah mengalami pengayaan.

Karena jalur militer belum memberikan hasil tersebut, Washington kini memperbesar tekanan melalui perekonomian. Operasi Pengasingan Ekonomi Iran kemudian menjadi instrumen utama untuk membatasi kemampuan Teheran mempertahankan kegiatan perdagangan internasional.

Selat Hormuz Tetap Menjadi Titik Rawan

Kehadiran militer Amerika Serikat di perairan sekitar Iran turut meningkatkan ketegangan regional. Selat Hormuz menjadi salah satu kawasan yang paling mendapat perhatian karena jalur tersebut memegang peran strategis dalam perdagangan energi dunia.

Gangguan serius terhadap aktivitas pelayaran di kawasan itu berpotensi menimbulkan dampak yang melampaui hubungan Washington dan Teheran. Negara-negara yang bergantung pada pasokan energi melalui kawasan Teluk juga dapat menghadapi konsekuensi apabila ketegangan meningkat.

Dalam situasi tersebut, Washington kembali menjadikan tekanan ekonomi sebagai salah satu pilihan utama untuk mengejar kepentingannya tanpa langsung memperluas konflik bersenjata.

Namun, efektivitas strategi ini tetap menghadapi sejumlah tantangan. Sikap China, kemampuan Iran mencari jalur perdagangan alternatif, serta perkembangan keamanan di Selat Hormuz akan menentukan seberapa jauh Operasi Pengasingan Ekonomi Iran mampu mencapai tujuan Washington.