Pembiayaan Motor Listrik yang terlalu longgar berpotensi menciptakan pertumbuhan penjualan yang tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan ekonomi masyarakat. Risiko tersebut muncul ketika pemerintah memberikan subsidi harga, sementara lembaga pembiayaan menawarkan uang muka atau down payment (DP) nol persen serta jangka waktu cicilan yang semakin panjang.
Berbagai kemudahan itu memang dapat mempercepat adopsi Motor Listrik Nasional (Molinas). Masyarakat bisa memperoleh kendaraan listrik dengan biaya awal yang lebih ringan. Industri otomotif juga berpeluang mencatat peningkatan permintaan dalam waktu relatif cepat.
Namun, kemudahan membeli kendaraan tidak selalu berjalan sejalan dengan kemampuan konsumen untuk menyelesaikan cicilan. Karena itu, lembaga keuangan perlu tetap menerapkan seleksi kredit secara ketat agar pertumbuhan pasar motor listrik memiliki fondasi yang sehat.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai penghapusan berbagai hambatan pembelian secara bersamaan dapat membuat penjualan Molinas meningkat tajam pada periode awal program. Menurutnya, angka tersebut belum tentu menggambarkan daya beli masyarakat dalam jangka panjang.
Lonjakan Penjualan Molinas Bisa Terjadi pada Periode Awal
Josua memperkirakan kombinasi subsidi, DP nol persen, tingkat bunga rendah, dan tenor panjang dapat mendorong penjualan Molinas secara signifikan dalam satu hingga dua tahun pertama.
Kondisi itu dapat menciptakan sejumlah indikator positif. Produsen kendaraan listrik akan mencatat kenaikan permintaan, sedangkan perusahaan pembiayaan memperoleh pertumbuhan penyaluran kredit. Pada saat yang sama, pemerintah juga dapat melihat kenaikan penjualan sebagai salah satu indikator keberhasilan program.
Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa angka penjualan tinggi belum cukup untuk menunjukkan keberhasilan yang berkelanjutan. Pemerintah dan industri perlu melihat kemampuan konsumen dalam memenuhi kewajiban pembayaran selama masa kredit.
Masalah dapat muncul ketika sebagian konsumen memperoleh pembiayaan meskipun kondisi keuangan mereka tidak cukup kuat. Pada tahap awal, persoalan tersebut mungkin belum terlihat karena konsumen masih mampu memenuhi cicilan.
Setelah berjalan sekitar 12 hingga 24 bulan, risiko tunggakan dapat meningkat apabila kondisi finansial konsumen melemah atau sejak awal tidak memadai untuk menanggung kewajiban jangka panjang.

Motor listrik nasional ALVA.
Kredit Bermasalah Bisa Berdampak ke Pasar Motor Listrik Bekas
Peningkatan tunggakan tidak hanya memberikan tekanan kepada perusahaan pembiayaan. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi perkembangan pasar motor listrik bekas.
Ketika perusahaan pembiayaan menarik banyak kendaraan dari konsumen yang gagal membayar cicilan, pasar kendaraan bekas berpotensi menerima pasokan unit dalam jumlah besar. Penambahan suplai itu dapat menekan harga jual kembali motor listrik.
Penurunan nilai kendaraan kemudian dapat memperbesar potensi kerugian perusahaan pembiayaan. Sebab, harga penjualan kembali unit yang mereka tarik belum tentu mampu menutup sisa kewajiban kredit konsumen.
Situasi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara upaya memperluas akses masyarakat terhadap motor listrik dan penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan.
DP Nol Persen dan Tenor Panjang Perlu Seleksi Ketat
Josua juga menyoroti risiko ketika pemerintah dan lembaga keuangan memberikan tiga stimulus sekaligus. Ketiganya mencakup subsidi harga, DP nol persen, serta tenor pembiayaan yang panjang.
Menurutnya, kombinasi tersebut dapat memengaruhi cara masyarakat mengambil keputusan pembelian. Konsumen berpotensi menjadikan kemudahan memperoleh kredit sebagai pertimbangan utama, bukan kemampuan membayar cicilan hingga lunas.
Karena itu, perusahaan pembiayaan tetap perlu mengukur pendapatan, kemampuan membayar, serta profil risiko calon konsumen sebelum menyetujui kredit. Kemudahan pembiayaan sebaiknya tidak menghilangkan proses seleksi yang dapat menjaga kualitas kredit.
Langkah tersebut juga penting untuk menciptakan pertumbuhan industri kendaraan listrik yang berkelanjutan. Penjualan yang meningkat karena kemampuan ekonomi konsumen akan memberikan fondasi lebih kuat dibandingkan pertumbuhan yang hanya bergantung pada insentif dan pelonggaran kredit.
Rasio Kredit Bermasalah Masih dalam Kondisi Aman
Saat ini, kondisi kredit bermasalah di sektor keuangan masih berada pada tingkat yang relatif terkendali. Josua menyebut rasio non-performing loan (NPL) perbankan berada pada level 2,09 persen secara bruto. Sementara itu, pembiayaan bermasalah di industri multifinance tercatat sebesar 3,01 persen.
Meski angka tersebut menunjukkan kondisi yang masih sehat, Josua meminta pengawas dan pelaku industri keuangan tetap mempertahankan standar pemberian kredit.
Menurutnya, kondisi kredit yang baik saat ini tidak dapat menjadi dasar untuk melonggarkan proses penilaian calon debitur. Lembaga pembiayaan justru perlu mengantisipasi potensi masalah sejak awal karena kualitas kredit baru terlihat setelah konsumen menjalani cicilan selama beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun.
Dengan demikian, pembiayaan motor listrik tetap dapat berperan sebagai instrumen untuk mempercepat pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik nasional. Namun, pemerintah, perbankan, dan perusahaan multifinance perlu menjaga keseimbangan antara kemudahan akses kredit dan kemampuan finansial konsumen.
Penerapan standar pembiayaan yang terukur dapat membantu industri menghindari lonjakan penjualan yang hanya berlangsung sementara. Selain itu, langkah tersebut dapat menekan risiko kredit bermasalah, menjaga nilai kendaraan bekas, serta mendukung perkembangan Molinas secara lebih sehat dalam jangka panjang.