Desa Slangit mulai memengaruhi kehidupan masyarakat di Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Memasuki musim kemarau, banyak sumur milik warga mengalami penurunan debit air sehingga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kondisi tersebut membuat masyarakat kembali mengandalkan sumur desa sebagai sumber air bersih yang masih tersedia. Aktivitas mengambil air kini menjadi rutinitas bagi banyak keluarga, terutama untuk memenuhi kebutuhan memasak dan air minum.

Kemarau Mengubah Kebiasaan Warga

Datangnya musim kemarau membawa perubahan pada aktivitas harian masyarakat Desa Slangit. Jika sebelumnya warga cukup memanfaatkan sumur di halaman rumah, kini mereka harus mendatangi sumur desa untuk memperoleh air dengan kualitas yang lebih layak.

Pemandangan warga membawa jeriken, galon, hingga gerobak dorong mulai terlihat hampir setiap hari. Mereka datang secara bergantian agar semua keluarga tetap memperoleh pasokan air bersih. Kebiasaan ini sebenarnya bukan hal baru. Hampir setiap musim kemarau, masyarakat menjalani pola yang sama ketika cadangan air tanah mulai berkurang.

Bagi sebagian warga, perjalanan menuju sumur desa menjadi bagian dari aktivitas rutin yang harus dilakukan demi memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

Sumur Rumah Tak Lagi Mencukupi

Salah satu warga Desa Slangit, Coki (24), mengaku keluarganya kembali memanfaatkan sumur desa karena debit air di rumah terus menurun. Ia bersama adiknya membawa dua jeriken berukuran sekitar 30 liter dan satu galon menggunakan gerobak dorong untuk mengambil air.

Sesampainya di lokasi, Coki menimba air memakai ember yang diikat dengan tali. Setelah wadah terisi penuh, ia membawa seluruh air tersebut pulang untuk digunakan beberapa hari ke depan.

Menurut Coki, air di sumur rumah masih tersedia, tetapi volumenya semakin sedikit. Selain itu, kualitas air juga menurun karena permukaan air sudah mendekati dasar sumur. Oleh sebab itu, keluarganya hanya memanfaatkan air sumur rumah untuk mencuci, sedangkan kebutuhan memasak dan minum sepenuhnya bergantung pada air dari sumur desa.

Ia menjelaskan bahwa keluarganya biasanya mengambil air setiap tiga hingga empat hari sekali ketika kemarau baru dimulai. Namun, jika cuaca semakin kering dan debit air terus menyusut, mereka harus datang setiap hari karena kebutuhan air meningkat sekaligus harus menyesuaikan dengan antrean warga lain.

Desa Slangit

Coki melakukan aktivitas pengambilan air bersih di sumber mata air sumur Desa Slangit Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon Jawa Barat pada Senin (3/7/2026) petang.

Warga Lain Mengalami Kondisi Serupa

Pengalaman serupa juga di rasakan Ningsih, warga Desa Slangit. Ia mengatakan sumur di rumahnya sudah tidak lagi menghasilkan air sehingga keluarganya hanya mengandalkan sumur desa.

Air yang di bawa pulang di gunakan khusus untuk memasak dan menyediakan air minum. Sementara itu, kegiatan mencuci pakaian maupun peralatan rumah tangga di lakukan di sungai agar penggunaan air bersih tetap hemat.

Sebagai ibu rumah tangga, Ningsih menilai sumur desa memiliki peran yang sangat penting selama musim kemarau. Tidak semua keluarga membeli air minum isi ulang, sehingga keberadaan sumber air tersebut menjadi penopang utama kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, hampir seluruh warga memanfaatkan sumur desa secara bergiliran. Karena itu, masyarakat selalu berupaya menjaga kebersihan dan kondisi sumur agar air tetap layak di gunakan oleh semua orang.

Sumur Desa Menjadi Penyangga Saat Musim Kemarau

Keberadaan sumur desa memberikan manfaat besar ketika musim kemarau menyebabkan banyak sumur warga kehilangan pasokan air. Infrastruktur sederhana tersebut menjadi solusi yang membantu masyarakat tetap memperoleh air bersih tanpa harus mencari sumber air yang lebih jauh.

Pemerintah desa bersama masyarakat menjaga keberadaan sumur sebagai aset bersama. Mereka menyadari bahwa sumber air tersebut memiliki fungsi penting setiap kali musim kemarau datang. Dengan pengelolaan yang baik, seluruh warga tetap bisa memanfaatkan air secara bergantian.

Fenomena yang terjadi di Desa Slangit juga menggambarkan tantangan yang di hadapi sejumlah daerah saat musim kemarau mulai berlangsung. Penurunan debit air tanah dapat mengganggu aktivitas sehari-hari apabila tidak tersedia sumber air alternatif.

Selama curah hujan belum kembali normal, warga Desa Slangit di perkirakan masih akan mengandalkan sumur desa untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Masyarakat berharap musim kemarau tidak berlangsung terlalu lama sehingga sumur-sumur di permukiman kembali terisi dan aktivitas sehari-hari dapat berjalan seperti semula.