Diagnosis kanker serviks – sering kali menjadi titik balik besar dalam kehidupan seorang perempuan. Hal inilah yang di alami oleh Jeanette, seorang perempuan berusia 31 tahun, ketika ia mengetahui bahwa dirinya mengidap kanker serviks. Sejak saat itu, berbagai pertanyaan muncul tanpa henti. Ia mempertanyakan kemungkinan memiliki anak di masa depan. Selain itu, ia juga di hantui ketakutan akan menopause dini di usia yang masih produktif.
Lebih jauh, Jeanette menggambarkan perasaannya sebagai bentuk pengkhianatan tubuh terhadap dirinya sendiri. Pernyataan tersebut di sampaikannya kepada Organisasi Kesehatan Dunia. Namun, setahun setelah diagnosis di tegakkan, kanker serviks merenggut nyawanya. Kisah ini mencerminkan dampak fisik dan psikologis yang mendalam dari penyakit tersebut.

Ilustrasi rahim perempuan. (iStock/Ivan-balvan)
Gambaran Global Kanker Serviks
Kanker serviks merupakan salah satu masalah kesehatan perempuan yang paling signifikan di dunia. Secara global, penyakit ini menempati urutan keempat sebagai kanker paling umum yang menyerang perempuan. Setiap tahunnya, sekitar 660.000 kasus baru kanker serviks terdiagnosis di berbagai negara. Pada saat yang sama, angka kematian akibat penyakit ini mencapai kurang lebih 350.000 jiwa.
Selain itu, data menunjukkan bahwa kanker serviks merenggut nyawa satu perempuan setiap dua menit. Angka ini menunjukkan bahwa penyakit tersebut masih menjadi ancaman serius. Terlebih lagi, sebagian besar kematian terjadi di negara dengan sumber daya kesehatan yang terbatas. Oleh karena itu, ketimpangan akses layanan kesehatan menjadi faktor penting yang perlu di perhatikan.
Hubungan Kanker Serviks dan Infeksi HPV
Hampir seluruh kasus kanker serviks berkaitan erat dengan infeksi Human Papillomavirus atau HPV. Virus ini sangat umum dan ditularkan terutama melalui kontak seksual. Dalam banyak kasus, sistem kekebalan tubuh mampu membersihkan infeksi HPV secara alami. Namun demikian, tidak semua infeksi dapat hilang dengan sendirinya.
Infeksi HPV yang menetap, khususnya dari jenis yang bersifat karsinogenik, dapat memicu perubahan sel abnormal pada leher rahim. Seiring waktu, perubahan ini dapat berkembang menjadi kanker serviks. Oleh sebab itu, pemahaman mengenai peran HPV sangat penting dalam upaya pencegahan.
Pentingnya Deteksi Dini dan Pencegahan
Kanker serviks termasuk jenis kanker yang paling memungkinkan untuk di cegah dan di sembuhkan. Hal ini dapat di capai apabila penyakit terdeteksi sejak tahap awal. Organisasi kesehatan global merekomendasikan dua langkah utama dalam pencegahan kanker serviks.
Pertama, vaksinasi HPV di anjurkan untuk anak perempuan usia 9 hingga 14 tahun sebelum mereka aktif secara seksual. Langkah ini bertujuan mencegah infeksi HPV berisiko tinggi. Kedua, skrining rutin sangat di anjurkan bagi perempuan usia 30 tahun ke atas. Sementara itu, bagi perempuan dengan HIV, skrining dapat di mulai sejak usia 25 tahun.
Dengan kombinasi vaksinasi dan skrining, risiko kanker serviks dapat di tekan secara signifikan. Namun demikian, pelaksanaannya belum merata di semua wilayah.
Tantangan Akses Layanan Kesehatan
Meskipun metode pencegahan telah tersedia, tidak semua perempuan memiliki akses yang setara. Di beberapa kawasan, seperti Afrika sub-Sahara, Amerika Tengah, dan Asia Tenggara, keterbatasan fasilitas kesehatan masih menjadi kendala utama. Akibatnya, angka kejadian dan kematian akibat kanker serviks tetap tinggi.
Selain faktor geografis, keterbatasan informasi dan kesadaran juga berkontribusi terhadap rendahnya cakupan vaksinasi dan skrining. Oleh karena itu, di perlukan upaya edukasi yang berkelanjutan dan terarah.
Strategi Global Eliminasi Kanker Serviks
Sebagai respons terhadap tingginya beban penyakit ini, pada tahun 2020 sebanyak 194 negara menyepakati strategi global eliminasi kanker serviks. Strategi tersebut di kenal dengan target “90-70-90” yang di harapkan tercapai pada tahun 2030.
Target tersebut meliputi vaksinasi lengkap HPV untuk 90 persen anak perempuan sebelum usia 15 tahun. Selanjutnya, 70 persen perempuan di harapkan menjalani skrining berkualitas tinggi pada usia 35 dan 45 tahun. Selain itu, 70 persen perempuan yang terdiagnosis harus memperoleh akses pengobatan yang memadai.
Jika strategi ini berhasil diterapkan secara global, diperkirakan jutaan kasus dan kematian dapat di cegah. Dengan demikian, kanker serviks berpotensi menjadi penyakit yang jarang ditemukan di masa depan.
Kesimpulan
Kanker serviks merupakan penyakit serius yang berdampak luas pada kehidupan perempuan. Namun, penyakit ini sebenarnya dapat di cegah dan di kendalikan. Melalui vaksinasi, skrining rutin, serta akses pengobatan yang adil, risiko kanker serviks dapat di tekan secara signifikan. Oleh karena itu, komitmen global dan nasional sangat di butuhkan untuk melindungi generasi perempuan di masa mendatang.