Saparan Mantran Wetan menjadi tradisi tahunan yang terus dijaga masyarakat Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Magelang. Tradisi ini memperkuat hubungan antarkeluarga sekaligus menjaga warisan budaya. Demi menyukseskan acara tersebut, setiap kepala keluarga mengeluarkan biaya sekitar Rp5 juta. Dana itu mencakup kenduri, jamuan tamu, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Kirab Ingkung Menjadi Pembuka Tradisi
Warga memulai Saparan sejak pagi dengan kirab budaya. Mereka membawa ingkung, tumpeng, serta tiga gunungan berisi sayuran dan hasil bumi. Rombongan berjalan dari ujung dusun menuju rumah Kepala Dusun Mantran Wetan, Handoko. Lokasi itu menjadi pusat pelaksanaan kenduri.
Sepanjang perjalanan, warga lain ikut bergabung sambil membawa ingkung dan tumpeng dari rumah masing-masing. Mereka berjalan bersama menuju lokasi kenduri. Suasana kebersamaan terlihat jelas di sepanjang rute kirab. Tradisi ini juga memperlihatkan semangat gotong royong yang masih kuat di tengah masyarakat.
Persiapan Berlangsung Selama Tiga Bulan
Warga tidak mempersiapkan Saparan secara mendadak. Giyanto menjelaskan bahwa masyarakat mulai bekerja sekitar tiga bulan sebelum hari pelaksanaan. Mereka menanam sayuran, merawat kebun, dan menyiapkan hasil panen untuk acara tersebut.
Selain itu, warga membuat ingkung, menyiapkan perlengkapan kenduri, membangun instalasi, dan membersihkan lingkungan. Para pemuda ikut membantu seluruh proses. Mereka bekerja sama agar semua rangkaian acara berjalan lancar.
Keseriusan warga menunjukkan bahwa Saparan bukan sekadar perayaan tahunan. Tradisi ini sudah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Mantran Wetan.

Warga membawa ingkung dalam Saparan di Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Rabu (29/7/2026).
Setiap Keluarga Menganggarkan Hingga Rp5 Juta
Saparan membutuhkan biaya yang cukup besar. Giyanto menyebut rata-rata setiap kepala keluarga mengeluarkan sekitar Rp5 juta. Dana tersebut mencakup iuran dusun sebesar Rp500 ribu, sesaji, kebutuhan kenduri, dan jamuan bagi sanak saudara.
Giyanto sendiri menyiapkan lima ekor ayam jantan. Ia menggunakan satu ekor untuk kenduri bersama warga. Empat ekor lainnya ia sajikan kepada tamu yang datang ke rumahnya. Harga setiap ayam berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp200 ribu.
Meski mengeluarkan biaya besar, warga tetap menjalankan tradisi ini dengan sukarela. Mereka menganggap Saparan sebagai bentuk syukur sekaligus penghormatan kepada leluhur.
Generasi Muda Ikut Menjaga Tradisi
Handoko menegaskan bahwa warga terus menjaga Saparan sebagai warisan budaya. Ia juga mengajak generasi muda untuk ikut melestarikan tradisi tersebut. Karena itu, masyarakat selalu melibatkan para pemuda dalam setiap persiapan dan pelaksanaan acara.
Menurut Handoko, warga selalu menggelar Saparan pada Rabu Pahing. Mereka tetap mempertahankan hari tersebut karena menghormati tradisi leluhur. Pengalaman sebelumnya juga membuat warga semakin yakin untuk tidak mengubah jadwal pelaksanaan.
Masyarakat masih memegang ilmu titen sebagai pedoman. Mereka percaya pelaksanaan di luar Rabu Pahing dapat membawa berbagai kendala. Keyakinan itu terus hidup sebagai bagian dari budaya lokal.
Saparan Lebih Meriah daripada Lebaran
Setiap kepala keluarga membawa satu ingkung untuk kenduri bersama. Banyak keluarga juga menyiapkan beberapa ingkung tambahan di rumah. Mereka ingin menjamu sanak saudara yang datang bersilaturahmi.
Handoko menyebut rata-rata pengeluaran setiap keluarga berada di kisaran Rp4 juta hingga Rp5 juta. Para tamu biasanya mulai berdatangan setelah waktu zuhur. Mereka berkumpul, menikmati hidangan, dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Dusun Mantran Wetan memiliki sekitar 163 kepala keluarga. Saat Saparan berlangsung, hampir seluruh rumah menerima tamu. Karena semua warga merayakannya pada hari yang sama, suasananya terasa lebih ramai daripada Lebaran.
Panitia juga menghadirkan berbagai hiburan tradisional. Warga dapat menikmati pertunjukan wayang, jaran kepang papat, dan seni latar. Berbagai pertunjukan itu menambah kemeriahan acara sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya di Mantran Wetan.